Kasus akhwat: Ketika idealita terbentur realita

— nara nih nara_ckp@xxx.xx wrote: >

Malam minggu, sepi banget di kos. Sebagian teman nonton konser (yang tentunya gratisan) sebagian lagi asyik mengurung diri di kamar masing-masing. Mau nonton TV, gak ada acara yang bagus. Jadilah menikmati kesendirian di dalam kamar tercinta sambil meneruskan membaca, ditemani alunan lagu-lagu romantis dari radio. Lagi asyik menikmati suasana, tiba-tiba L masuk kamar, tanpa mengeluarkan sepatah katapun langsung ikut rebahan disampingku.

Aku yang tadinya tak begitu menghiraukan kehadirannya karena asyik dengan bacaanku, menjadi terusik mendengar beberapa kali L menghela nafas panjang. Kayaknya lagi ada masalah nih anak. Ku lirik sekilas wajahnya, pandangan matanya menerawang, kebiasaannya klo lagi menimbang-nimbang mau bercerita atau tidak. Dia menghela nafas sekali lagi sebelum akhirnya angkat bicara.

“Mbak….” Hanya itu yang dia ucapkan. Tapi itu sudah cukup menjadi isyarat bahwa aku harus meletakkan bacaanku dan bersiap mendengarkan penuturannya.

“Sudah tiga orang yang mengatakan secara langsung padaku bahwa aku pacaran dengan X” L mulai mengawali ceritanya.

“Tiga orang itu yang berani ngomong langsung, entah berapa orang lagi yang bilang seperti itu dibelakangku. Mereka beranggapan bahwa hubunganku dengan X termasuk dalam kategori pacaran dan hal ini akan berdampak buruk ke dakwah. Mereka takut klo objek dakwahku tidak percaya lagi padaku, klo tahu bahwa X sering berkunjung ke sini bukan untuk urusan dakwah, tapi untuk urusan pribadi. Sementara selama ini aku selalu menekankan bahwa tak ada pacaran dalam Islam, bagaimanapun bentuknya.”

Aku sudah hampir membuka suara dan kasih komentar, namun segera kuurungkan niat itu. Lebih baik aku diam dan menunggu hingga L selesai bercerita, karena temanku yang satu ini tak suka bila ada yang memotong pembicaraannya.

“Aku nggak mau klo hubunganku dengan X ini disamakan dengan pacaran, aku nggak pacaran sama dia. Aku mau serius sama dia dan saat ini kami sedang berproses ke arah sana. Apa salah klo selama proses itu kami sering bertemu dan berdialog? Dulu aku dan X memilih ketemu dan membicarakan hal ini dikampus, tapi beberapa teman protes dengan kedekatanku dengan X, mereka mengatakan kami berkhalwat.. Sekarang kami memilih ketemu disini, tetap aja ada yang protes. Jadi harus dimana dong? Rumahku kan disini ! Apa aku harus ngajak X ke lembah atau malah ke kaliurang?!”

air_tenang_menghanyutkan_2.jpg 

“Huh… itu sih namanya pacaran, dan pasti akan lebih heboh lagi jadinya!”

Nada suara L sudah mulai meninggi, menampakkan emosinya karena merasa mendapat penentangan dari teman-temannya. Dalam kondisi seperti ini, sia-sia saja kasih komentar, apalagi mendebatnya, karena L tipe orang yang gak mau dibantah, apalagi disalahkan.

“Lantas maumu gimana? Apa kau ingin mereka mengatakan klo kamu dan X lagi ta’aruf?” Kubuka suara setelah L terlihat mulai agak tenang.

“Bukan gitu, mbak! Aku gak mau cuma ketemu beberapa kali terus kami langsung nikah. Aku butuh tahu visi dan misi dia ke depan, aku ingin dia tahu apa, siapa dan bagaimana aku dari diriku sendiri, bukan dari orang lain. Aku ingin dia tahu kejelekan-kejelekanku. Begitu pula sebaliknya. Untuk ini kan kami harus sering ketemu dan berdialog. Aku ingin mereka memahami hal ini, memahami posisiku dan bukannya malah menyudutkanku dengan mengatakn bahwa aku dan X pacaran. Aku bisa marah sekali bila ada yang menganggap aku dan X pacaran!”

Seulas senyum kuberikan padanya, sambil dalam hati bilang, klo menurutku sih itu juga pacaran. Tapi berhubung versi pacaran yang tertanam di benak dia dan dibenakku berbeda (meski kami sudah sering membicarakan perbedaan ini sebelumnya), bakal sia-sia saja aku mendebatnya malam ini, bisa-bisa tambah marah dia nanti, apalagi udah pake ngancam segala.

“Kenapa tidak minta X bawa teman klo berkunjung ke sini? atau kamu minta ditemani. Dengan begitu kan mereka gak bakal bilang kamu berkhalwat dan pacaran”

“Gak enak dong mbak klo ada orang lain. Bagaimanapun, kami kan membicarakan rencana berumah tangga. Masalah rumah tangga kan masalah rahasia, masa harus kami beberkan didepan pihak ketiga? Lagian, kasihan temannya dong klo kami cuekin dan hanya diam saja sepanjang pembicaraan. Berarti kan kehadirannya tak ada manfaatnya.”

Ooo…. Begitu ya”, aku manggut-manggut, sambil dalam hati sekali lagi menambahkan, itu sih pacaran namanya.

“saat ini aku merasa yakin, bahwa walaupun kami cuma berdua, aku masih bisa jaga hatiku. Aku masih bisa mengendalikan perasaanku dan mengarahkan pembicaraan kami. Setiap kali dia mulai mau mengalihkan pembicaraan, dengan sok kasih perhatian, aku selalu meluruskannya kembali. Gpp kan cuma berdua, asal kami bisa jaga hati?”

“Kamu bener-bener suka sama X ya?” aku pancing dia dengan pertanyaan itu, karena dia udah nyebut masalah hati dan perasaan.

“Aku nggak mau punya perasaan cinta sebelum menikah, mbak”

Gak mau ada cinta sebelum nikah? wah makin menarik nih, pikirku. “Trus kenapa kamu pilihX ? Setahuku X bukan `anak tarbiyah’. Dia bukan aktivis, dia `lelaki biasa’. Kenapa tidak pilih A atau B, mereka kan pernah mencoba mendekatimu? Mereka aktivis, klop kan sama kamu, kamu `akhwat’ dan mereka `ikhwan’. Apalagi si A, kayaknya memenuhi semua idealismemu dulu dalam mencari pendamping hidup”

“Nggak sreg di hati, mbak. Biarpun A memenuhi kualifikasiku, tapi klo aku gak sreg ama dia, gimana? Aku cuma sreg ama X. Aku juga kadang mikir, kok aku bisa memilih X, padahal tak satu pun dalam dirinya yang memenuhi idealismeku dulu dalam mencari
pendamping hidup.”

“Itu sih cinta!! Kamu aja yang gak mau mengakuinya!”

“Eh , masa sih , mbak? Tapi aku gak mau ada cinta dulu, mbak. Klo gak jadi kan nanti sakit dihati. Aku nggak mau seperti itu. Sampai larut malam kami membicarakan masalah ini, meski aku harus berusaha keras melawan rasa kantuk yang menyerang.

Beginilah bila idealisme harus dibenturkan dengan realita. Kenyataan dilapangan tak selalu semulus dan seindah seperti dalam bayangan kita selama ini, kasus temanku ini salah satunya. Dia berprinsip pergaulan lelaki perempuan harus dibatasi, tak ada pacaran dalam Islam, bagaimanapun bentuknya, sementara proses `instan’ tak mau pula dia jalani. Namun dalam kenyataannya, kini dia menjalin hubungan khusus dengan lelaki dari kalangan biasa dan harus sering berinteraksi dengannya dalam prosesnya menuju pernikahan. Frekuensi telpon maupun kunjungan X yang meningkat, tak urung menjadikan bumerang bagi dirinya sendiri. Belakangan ini memang aku dengar suara-suara yang bernada miring, “Ngomongnya aja begini, tapi nyatanya……” atau “Klo dijalan sih nunduk, klo berdua, siapa yang tahu?” bahkan yang lebih pedas lagi “Ternyata orang masjid sama aja! gayanya aja yang……”

Susah kan klo nama masjid udah dibawa-bawa pula, padahal tidak semua orang masjid seperti itu, Karena ini hanya kasus.

Mudah-mudahan kisah ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua, hati-hatilah sebelum berbicara dan berbuat, agar tak menjadi bumerang bagi diri kita sendiri, apalagi bumerang bagi dakwah.

Adakah yang bisa memberikan saran solusi bagi L. Dalam dirinya terjadi pertentangan batin. Klo dia turuti keinginan teman-temannya, artinya mempercepat pernikahan, tidak mungkin untuk saat ini, karena ortu X menuntut agar X lulus kuliah, apalagi X anak pertama. Meninggalkan X ….. berat bagi L, L tidak siap untuk terluka meskipun dia bilang gak mau ada cinta sebelum menikah. Berlama-lama dengan X, maka citra L dimedan dakwah akan makin buruk, dan dia harus selalu mendapatkan tekanan dari teman-temannya.

Yogya, akhir feb 04

Nara

18 responses

  1. Dik Nara, kasus yang kauajukan menarik sekali. Begini tanggapanku.

    Ketika idealita berbenturan dengan realita, solusinya ada tiga alternatif:

    (1) Bila kita yakin bahwa idealita yang kita anut bersifat mutlak benar (karena idealita kita = ayat/ilham yang dimasukkan Allah ke dalam benak kita), maka solusinya: kita berikhtiar mengubah realita. Contoh: pada idealita L tidak ada pacaran dalam Islam, tetapi pada realitanya orang-orang menganggap perilaku L itu tergolong pacaran, maka solusinya berikhtiar mengubah pandangan mereka. Kita berupaya mengubahnya dengan tangan (kekuasaan). Bila tidak mampu, lisan (komunikasi) bisa dimanfaatkan. Bila ini pun tidak dapat berhasil, kita masih bisa berupaya dengan hati (doa).

    (2) Bila diyakini bahwa realita tidak dapat diubah, sedangkan idealita berkemungkinan salah (karena idealita kita = pemahaman benak kita terhadap ayat-ayat, sedangkan pada hakikatnya hanya Allah yang tahu benar-salahnya), maka solusinya: ikhtiar mengubah idealita. Contoh: pada realitanya, kita tidak bisa mengubah pandangan orang-orang bahwa perilaku L itu tergolong pacaran, padahal pada idealitanya “mungkin tidak ada pacaran dalam Islam”, maka solusinya mengubah idealita ini menjadi “mungkin ada pacaran dalam Islam”. Kita berupaya mengubahnya dengan mencari bentuk-bentuk pacaran Islami yang dapat diterima dalam pandangan semua (atau hampir semua atau sebagian besar) orang yang berakal sehat dan berhati nurani.

    (3) Bila kita yakin bahwa realita dan idealita sama-sama dapat diubah, maka solusinya adalah gabungan dari dua solusi di atas. (Allah tidak akan mengubah nasib kita bila kita sendiri tidak mengubahnya.)

    Jadi, kuncinya adalah keyakinan kita. Karena itu, dengan hati nurani dan akal sehat, silakan mempertimbangkan sungguh-sungguh asumsi mana yang kauambil untuk kauyakini di antara tiga alternatif itu! (Orang yang akil balig (dewasa) memiliki kemampuan untuk memilih alternatif yang akan dijalani dan dipertanggungjawabkan.)

    Solo, awal Maret 04

  2. Coba ikut berpendapat. Dulu, ane hampir punya kasus yang mirip dengan kasus di atas. Bedanya, kami bedua sebenere dah sama-sama tahu prinsip dasarnya. Tapi karena, suatu canda yang jadi serius akhirnya malah ke dha dhen. Ampir setahun jalan. Pada akhirnya memang lingkungan yang mengingatkan kami pada prinsip dasarnya. Yagh… walo kadang aku sendiri masih kadang terlalu mudah hayut dalam canda tawa dengan teman-teman sekalas. Tapi pelan-pelan aku juga menghidari khalwat dan bersentuhan, salaman dsb.

    Kami mutusin untuk pisahan, kalo ntar jodo IA ketemu lagi. Saat ini mang ada komunikasi lagi. Tapi lebih bisa terjaga. Minimal ya itu. Bawa teman atau seperlunya aja. Untuk ke arah pernikahan memang dari pihak dia sudah siap dijemput. tapi dari pihak aku sendiri belum siap. Dilema pada intinya🙂. Masih perlu memantapkan diri terlebih dahulu. Kalo memang nanti dia berjodoh dengan yang laen. Itu brarti memang sudah jalannya. Yang jelas dipersiapakan, mnurut aku.

    Af1 kalo ada yang salah.

  3. ana kebetulan punya pengalaman unik tapi ga mau nulisin panjang lebar takut kehabisan tinta dan waktu, singkat cerita ana dan seorang akhwat adalah pengurus sebuah organisasi remaja, kita ber2 sebenarnya ama-ama suka tapi karena sok paling militan jadi ga ada yang berani nembak(ngajak kawin), singkat cerita nih kita sering sekali cari-cari alasan agar bisa bertemu tapi alasannya harus nyar’ie, pernah suatu hari ana kerumah dia cuma ingin mengucapkan selawat idul_fitri, ya tentunya ga nyar’ie kali, dan dia datang kerumah dengan alasan ingin da’wahi ortu tapi bawa hadiah segala, jilbablah tu ibu ana lah…!, ghamis tu adek pr ana..!

    nah karena ana merasa gak ada hasil, ana nekat nembak akhwat lain yang menurut ana diennya juga baik tapi tidak semilitan dia, nah saat dia tahu ana menikah dengan itu akhwat (sekarang istri ana)terlihat sekali dari suaranya ketika ana menelponnya tu beritahu dia bahwa ana dah nikah….!

    dan tentunya ana mersa lebih sakit lagi, kenapa? bagi ana sesudah ga bisa dapat akhwat semilitan dia, teryata dia balas dengan menikah dengan teman dekat ana, wah rasa sakitnya kebangetan…, pengennya nih dapat 2_2nya! gimana?
    sekarang ana ngajar di sebuah sekolah tu anak2 yatim dikawasan bekasih, sekedar informasi bagi ikhwan_akhwat yang punya famili atau tetangga yatim yang pingin sekolah berkuwalitas end gratis hubungi ana di:081385781697

    “wah rasa sakitnya kebangetan”? mungkin dia ngerasa lebih sakit loh! (Pada umumnya, perasaan wanita lebih peka.)

  4. assalamu’alaikum..
    numpang ngoment dikit..(mgkn lbh byk ceritanya:) )
    kisah mbak nara sudah 3..TIGA tahun yg lalu..bagaimana kabarnya mbak,..apakah sudah terealisasi pernikahannya..kita semua berharap sudah n masing2 punya peran dakwah di medannya mbak n suami. tapi jika belum jadian/nikah ya ana coba memberi saran smg bermanfaat siapa tahu juga untuk ikhwah yg lain.
    1. yakinkan diri bahwa idealita kita sendiri tentang hal berumah tangga itu bukan suatu privasi, dalam hal ini karena baru rencana menikah, rencana berumah tangga, bukan berumah tangga sendiri. (sependapat sama the 1st comment). Din ini telah jelas mengaturnya, dari Allah yg maha segalanya,bukan yg lain,itulah pedoman kita. Adapun proses pernikahan meliputi :
    a. Ta’aruf
    saling melihat, n bertanya segala macam yg ingin ditanyakan dari si dia dari visi-misi nikah sampai privasi. prinsipnya jangan malu n harus saling jujur. Ini harus besertakan org2 yang terpercaya, n bisa dilibatkan(bisa memberi masukan positif bagi rencana terbang nahkoda kita yg ingin nikah). jadi tidak berdua aja, bisa sahabat, kakak, guru ngaji, atau ortu dll
    b. Khitbah
    Tahapan ini setelah sukses ta’aruf, pria melamar calon istri, n istri punya hak untuk menolak/menerima, sudah antar keluarga (keluarga besar)
    c. Nikah
    ini pastinya antum insy udah tau sendiri

    Jadii mbak nara/antum smua hendaknya cepat2 berproses untuk nikah secara syar’i..berta’aruflah dengan org2 terdekat yg bisa dipercaya..kalau ana mungkin milih murrabi ana:),, sebenarnya bisa tidak memakan waktu lama..ya itu tadi dengan berprinsip saling jujur dengan kekurangan dan kelebihan, toh kalo ga jujur setelah nikah nanti tau aslinya..

    kalo udah cocok sama visi-misinya (harus syar’i ya, untuk para aktivis pastinya tau pedoman visi misi nikah.., bisa jadi idealitas kita salah, sangat mungkin, misal hanya karna nafsu, musuh kita yg satu ini (nafsu)bener2 bikin gemes..!!!, bisa jadi sreg..tapi di dalamnya ada nafsu, maka hendaknya di kroscek lagi apa kita sreg karna Allah atau hanya keduniawian. kalo bukan karna Allah, segera ubah atau pindahlah ke lain hati..insy masih banyak yg baik2 dan rasa cinta akan Allah limpahkan begitu akad nikah..masih ga percaya dengan nikmat ini?? mari kita buktikan!!

    LIFE JUST FOR ALLAH, ISLAM N HIS MASSENGER. ALLAHU AKBAR!!
    wassalamu’alaikum

  5. mau tanya dulu gmn kbar kasus mbak nara tersebut, saya punya kasus sama juga n pngin tahu solusi realnya bukan teori2 belaka. udah kenyang mkan hadis n ayat al qur’an tapi hati ini msh blm ikhlas. terima kasih, bls aj ke email (boysmailbox@telkom.net)

  6. Assalamualaikum wr wb

    @Mas Fra.Jogja
    Masalahnya g semua orang bisa “dipaksa” untuk mengikuti pengenalan gaya Taaruf mas, ya contohnya mba Nara tadi.
    Mas mungkin bisa saja menyebutkan kalau hal2 yg ditanyai sebaiknya yg umum2 dulu, tp bagaimana dgn mba Nara? dia mempunyai pemikiran yg saya kira juga realistis. Karena X adalah calon suaminya, saya kira wajar mba Nara bertanya detail ttg diri X.
    Belum lagi kalau ada rasa grogi, malu, takut ditolak, takut salah, suasana kaku, masalah kejujuran dll…tentunya akan menjadi lebih sulit untuk mencari tau lebih detail.
    Malah saya berani bilang, taaruf ataupun pacaran…22nya saling memiliki kelebihan dan kelemahan masing2…
    Kalau satu cara diterapkan ke semua tipe orang, yg ada hasilnya malah berantakan.
    Cinta pra-nikah bukanlah suatu yg haram apabila disikapi dgn tindakan yg tepat.
    Kalau org2 yg bertaaruf selalu menggemakan slogan
    “silahkan rasakan indahnya cinta setelah menikah”
    Saya berani bilang,
    “silahkan rasakan indahnya cinta sebelum menikah, apalagi setelah meikah”

    wassalam

  7. hahaha…

    lagi iseng2 browsing ketemu di blog, eh ketemu ni tulisan…

    mmm…. saya bisa dibilang akhwat tarbiyah, dah cukup lama, hampir 4 taun. byk orang bilang saya militan, perkasa, dewasa dll
    yah begitulah…
    yg lucu, di saat semester 7 kemarin….
    saat saya sedang benar2 melebarkan sayap pemahaman saya akan dakwah, malah “terjebak”.
    orang asing itu menyukai saya dengan caranya….
    dia orang biasa, gak tarbiyah. bahkan dia tarekat. awalnya ragu bgt. udah ngomongin semuanya ke murobbi dan ke temen deket. tapi mereka rata2 bilang “kamu kan dah ngerti musti gimana”. saya sih ngerasanya, mereka sama sekali gakperhatian sama saya. dan kebetulan lagi jenuh2nya jg sama aktivitas. curhat sama Allah aja. gak ada judgement. kadang timbul rasa sebal luar biasa sama temen2 aktivis lain yg cuek tapi pinter men-judge.

    sampai…
    beberapa bulan kemudian…
    setelah mengalami masa jatuh bangun…
    saya sadar saya akhirnya jatuh cinta padanya…
    dgn kejujurannya, keapa adaannya, kecerdasannya…
    (klo soal perhatian, dia gak peka… tapi malah gara2 itu saya jadi suka dia)
    saya jujur sama semua orang…
    kami memiliki hubungan…
    kami sekarnag jalani apa adanya
    nunggu saya lulus (sekarang lagi nyusun skripsi) dia juga.
    kita berdua pengennya nikah sekarang juga (hehe… nafsu aja bisanya!), tapi kedua orang tua kmi (terutama orang tua saya) menolak keras klo kami belum punya pekerjaan dan bisa mandiri…

    sudah beberapa kali saya bolos pengajian…
    bukan apa2, saya mungkin butuh ketenangan aja…

    sebenarnya saya masih sering nangis klo inget pandangan adik2 angkatan saya di kampus bgmn, karena seharusnya saya menjadi panutan buat mereka…

    tapi saya tidak ingin menyakiti hatinya lagi…
    klo dibilang siapa yg paling jahat disini, itu adalah saya…
    dibanding dirinya, saya lbh paham bahayanya hubungan kami…
    tapi saya membiarkan diri saya…
    sejujurnya… sya lelah… sangat…
    sudah berulang kali minta pisah, tapi yg ada hanya menyakiti diri saya dan dirinya. yg pasti skripsi jadi tidak terurus…

    saya berharap tidak ada yg mengikuti jejak saya…
    tapi saya yakin…. saya bisa melalui ini semua…
    kami pasti bisa melalui semua ini…

    dgn bertemu dirinya… saya byk menemukan kenyataan bahwa saya tidak sebaik yg saya kira…
    kami berdua saling berusaha memperbaiki…
    dirinya dgn kepahaman ilmu tasawufnya dan saya sendiri dgn jiwa pergerakan (yg sejujurnya masih terhujam kuat dalam diri saya… hanya saja saat ini sedang koma…)

    saya salut buat kalian yg bisa melewati masa2 sulit ini…
    doakan kami… secepatnya bisa melalui masa2 ini… dgn menikah atau pisah…
    (maaf ya jadi curhat)

  8. @Darell

    Cuma nyumbang opini
    Saya ngga kenal anda, tapi saya yakin n percaya…insya Allah anda ngga akan terjerumus ke dalam kegiatan2 yang di luar batas syariat.
    Karena pada dasarnya manusia memang mempunyai fitrah untuk itu
    Menyukai, mengungkapkan perasaan, dan mendapat perhatian.
    Lalu kenapa itu semua harus dipadamkan?
    Salahkah memiliki hubungan pra nikah?
    Saya pikir tidak sama sekali…
    Yang penting kita tetap berpijak kepada syariat…:)
    Selamat melewati ujian ini, moga2 skripsinya cepet selesai n dapet kerjaan yang bagus biar cepet merit…aaamiiin…

    Wassalam

  9. setan kalo udah masuk ya gitu.. siapun kasih nasehat nggak bakalan mempan… moga dapet petunjuk dan trus gempur dengan peringatan maju terus….ruqyah…

  10. Assalamualaikum.
    Baru skrg kasi respon, soalnya baru liat blog ini. Yapz, Aq setujuh dgn Boy, skrg bukan waktunya berteori (no offense buat yg kasi teori), tapi solusi real. KLo pengalaman Aq sih ngadepin mslh kek gini, Ada bbrp langkah praktis untuk menguraikan mslh yg ribet ini dan menganalisnya nya.

    Pertama
    Coba yg bersangkutan (yg sedang bermasalah), dan orang yg mungkin membantu (yg bersangkutan) merenungkan lagi, kenapa dia ber”hijab”, soalnya Aq liat di sini akhwatnya adalah yg menerapkan prinsip “hijab”

    Kedua
    Keluarkan pertanyaan ini ke diri Ukhti, Ketika persoalan ini mulai mengganggu, ato mudahnya ketika mulai menjalin hubungan dengan “dia”, apakah Ukhti masih merasa menjaga hijab ?

    Ketiga
    Setelah itu, coba posisikan diri ukhti pada posisi “orang ketiga” yang melihat apa yg ukhti lakukan dengan “dia”. Usahakan bayangkan saat memposisikan diri jadi orang ketiga, perasaan ukhti se netral mungkin seperti orang yg tidak tahu apa2 ttg hubungan ukhti dengan “dia”.

    Keempat
    Setelah membayangkan, coba kembali ke langkah ke 2. Bila jawaban dari langkah keempat ini, adalah “Ya, saya sudah menjaga hijab”. Catat poin-poin yg ukhti pikir bisa menjadi dasar bahwa yg ukhti lakukan ini menjaga hijab. Lalu lakukan langkah kelima. Bila jawabannya “tidak, saya telah melanggar prinsip2 saya sendiri”, maka 1 1 nya langkah adalah Muhasabah. Tidak perlu diteruskan.

    Kelima
    Semua hal yg dicatat itu coba diskusikan pada teman2 yg terpercaya dan memiliki prinsip yg serupa dan kalau bisa tidak mengetahui mslh ukhti saat ini (mencari pendapat netral lagi2). Usahakan uraikan mslh ukhti ke teman ini dengan menggunakan analogi lain, jgn ceritakan mslh ukhti yg sebenarnya.

    Keenam
    Apapun jawabannya kembali lagi ke langkah kedua, lalu langkah ketiga BILA PERLU, lalu ke langkah keempat. NAH,kali ini ada yg berbeda. Bila jawabannya adalah “Ya, saya telah menjaga hijab” Maka lakukan langkah ketujuh. Tapi bila jawaban nya “Tidak, saya telah melanggar prinsip saya” maka lanjut ke langkah Muhasabah.

    Ketujuh
    MAJU terus, jgn pedulikan pendapat orang2 itu. Karena hal itu adalah sebuah konsekuensi logis dari yg ukhti lakukan. UKHTI harus yakin langkah yang UKHTI ambil sudah tepat dan TERBAIK setidaknya untuk saat ini, sambil terus memohon PETUNJUK dari ALLAH. Ini hanyalah MISS INFORMASI dan MISS UNDERSTANDING , dan jangan sampai hal itu jadi PENGHAMBAT tiap2 langkah hidup ukhti. Bila ada kesempatan, jelaskan seperlunya ke yg SALAH SANGKA itu, tanpa peduli mereka percaya ataupun tidak. Ingat ukhti, LIFE must GO ON, dan menurut Aq, “it’s WASTING TIME” terlalu terbenam pada masalah ini, banyak kesibukan lain menunggu.

    LANGKAH MUHASABAH
    Kalau sudah begini, artinya, ada yg SALAH, dalam penjagaan hati ukhti. Apa yg harus dilakukan ? Simpel,
    Pertama : MOHON AMPUN pada ALLAH Swt
    Kedua : Masukilah lingkungan yg mendukung ukhti dalam menjaga hijab dan jgn bosan2 minta TAUSIYAH (^_^ hehehe ini POWERFULL loh, trust me).
    Ketiga : Ambil jarak dgn “Dia” tapi jgn sampai memutus silaturahmi, dan langkah ke depan, minta bantuan pada teman2 seperjuangan ukhti yg sepaham ^_^.
    Keempat : Udah ah cukup, itu sih kondisional, Aq yakin ukhti pasti tau jawabannya ^o^ La la la la la…..
    Pesan, ingat ukhti, AMAL JAMA’i itu jauh lebih POWERFUL dan AMAN untuk keteguhan dan perjuangan, ketimbang SINGLE FIGHTER.

    Penutuph :
    ^.^, Aq memberi masukan yg bentuknya rada “Aneh” kek gini, soalnya Aq ga tau kondisi AKtual di lapangan kyk gimana, apa yg sudah dikatakan, bagaimana lingkungan, siapa ukhti, siapa “dia”, dsb. Jadi Aq cuma memberi masukan dalam bentuk langkah2 yg Aq USAHAKAN (~_~) Sistematis sehingga mudah diterapkan ^_^ berdasarkan pengalaman dan sebuah prinsip, “Obat Hati yg paling mujarab hanya datang dari dalam HATI kita SENDIRI, melalui jalan yg disebut KESADARAN”

    Ok de, gud luck yah.

    Wassalamualaikum Wr. Wb.

    dan mohon maaf lahir BATIN, mo lebaran EUY !!!!! ^o^ tapi bye bye RAMADHAN T_T T_T T_T

  11. maaf nih numpang nulis…sebenarnya menurut aku,kisah cinta yg trjdi di kalangan aktivis dakwah kampus sudah bukan hal yg baru lg.dan tmn2 aku para ikhwan dan akhwat di kampus aku pun prnh mengalami hal sprti itu.yg psti,adanya fenomena sprti itu merupakan fenomena gunung es..bnyk d klngan tmn2 ikhwan dan akhwat yg tidak brpcrn scra lngsng,ttp pcrn scra samar2 melalui hati dan sms dr hpnya msng2..nauzubillah
    hanya 2 pilihan untuk mslh sprti ini,berhenti atau nikah itu ja,krna malu dong ma di lihat org alim gk taunya sprti itu atau klo gk kuat keluar ja dr kumpulan lmbga dkwh kampus trsbt jgn gara2 nila setitik rusak susu sebelanga..jagalah hati wahai ukhti…blm tentu org yg engkau cintai jg mencintai dirimu..

  12. satu-satunya cara berkomunikasi yang aman dengan akhwat untuk menghindari fitnah adalah dengan tanpa komunikasi jika tidak perlu.
    menurut saya, semua line komunikasi bisa menjadi sebuah bumerang bagi diri sendiri.
    surat/sms bisa salah tafsir
    telpon bisa terlena karena suara
    via orang lain bisa salah arti

    sebaiknya sih memang jangan melakukan komunikasi bila tidak betul-betul diperlukan ….

  13. semilitan apapun akhwat, bakal klepek2 klo diksh prhatian lbih…mk dr itu hai ikhwn2 ayo ndang meridd…jo suwe2….
    nikah muda, blm lulus nkerja ga papa koqqq…
    fastabiqul khoirot ya!!!af1

  14. ikut ngramein boleh ya berpendapat…
    Untuk kasus diatas tak selazimnya seorang akhwat bertindak sesuatu yang bisa menimbulkan fitnah, apapun namanya (pacaran/khalawat atau bahkan ta’aruf anda menyebutnya) jika sering bertemu berdua antara lawan jenis yang bukan mukhrim sampai ada guncingan orang diluar sampai 3 orang atau lbih, itu bisa menimbulkan fitnah,Mungkin bila selain aktivis dakwah itu tak banyak berpengaruh untuk orang lain walaupun sama-sama tak boleh,karna memang jelas melanggar syariat bila berdua dengan lawan jenis yang bukan mukhrimnya, tapi jika pelakunya aktivis dakwah itu sangat berpengaruh pada dirinya maupun harokah yang memboncengnya, cinta memang anugrah ilahi yang sangat indah, namun bila mengalahkan cinta kepada Allah itu menjadi bencana

    “Katakanlah! ‘Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum keluargamu, harta-benda yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatiri akan merugi dan rumah tangga yang kamu senangi (manakala itu semua) lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.”(QS.At-Taubah 24)

    Nabi berdakwah dengan lembut menyesuaikan kadar keimanan umatnya pada saat itu, bagi yang telah memiliki keimanan yang cukup seperti aktivis dakwah, adalah pantas untuk penegasan bahwa itu tidak boleh. maaf ya makruh bagi orang awam itu bisa menjadi haram bagi para pewaris nabi (ulama/dalam hal ini termasuk aktifis yang mendakwahkan islam), sunnahnya bisa menjadi wajib, itu hanya pemicu untuk fastabiqul khoirat. wallahua’lam bishowab
    wassalamualaikum

  15. Assalamu’alaikum
    Cmn mo ngasih pendapat, hal trsbt dpt dbcrkn melalui murabbi masing masing. cz pihak yg pantas sbg curhat mslh pernikahan adl murraBINY MASING-MASING. Af1 ane ktk dl jd org yg mash ammah ad seorang akhwat yg tertarik dng tmn ane yg jg kbtln orng ammah. adapun analasan akhwat trsbt lbh mmlh org ammah drpd ikhwan yg tlh mnjln proses tarbiyah adl kecerdasan hati yg dimuilik olh tmn ane lhb bgs drpd para ikhwan di jurusan ane.
    pln tp pasti ane bnyk bljr dar org ammah trsbt n akhrinya ane dpt mnj ikhwan yg mengemban amanah tarbiyah. dan u meluruskannya adlh 1. Niat hny u Allah Ahla wa Jahla 2. jaga hati dan persaan cz akhwat sgt rentan pd mslh ini. alhamdulillah ktk ane cb brbicara kpd akhwat trst u meluruskan kmbl jalan yg bnr ane mngnakan metode pendekatan sama yg dilakukan olh pria ammah trsbt, y dakwah adl seni ukhti bnk2lh belajar dr siapapun baik it preman, pemabuk dll. skrg akhwat trsbt dpt kmbl lg k jln yg bnr n ia bgt malu cz org yg PDKT trnyt adlh seorang ilhwan

  16. seorang akhwat tangguhpun bisa terjerumus
    hidup tak seindah bayangan
    semoga allah mengampuni kita
    g ada yg sempurna

Komentar ditutup.