Pacaran Islami dalam Novel “Ayat-Ayat Cinta”

ayat-ayat cinta

PACARAN DALAM ISLAM (kajian Analitis terhadap Pemikiran Habiburrahman El-Shirazy dalam Novel Ayat Ayat Cinta)

By teraskita

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik”. (QS. Ali Imran :14).

Islam mengakui adanya rasa cinta yang ada dalam diri manusia. Ketika seseorang memiliki rasa cinta, maka hal itu adalah anugerah Yang Kuasa. Termasuk rasa cinta kepada wanita (lawan jenis) dan lain-lainnya.

Tapi, cinta seperti apa yang mampu memberikan rasa indah dalam pandangan manusia? Apakah cinta dalam pacaran termasuk didalamnya? Baca lebih lanjut

Pacaran… tetapi secara islami

[0] saya kurang sependapat dengan pemaparan saudara mengenai pacaran, karna menurut pandangan saya pacaran itu banyak mudharatnya.
1. pacaran itu ikatan uang mengikat hubungan laki-laki dan perempuan tanpa ada hukum yang sah menurut islam seperti nikah.
2. nabi muhammad yang menurut saudara pernah pacaran , menurut saya itu bukanlah pacaran melainkan sebatas kontrak kerja dengan khatidjah, dan jika terdapat perasan suka itu tidak ada ikatan yang mengikat.
3. dan ikatan itu bila tidak terjalin dengan baik akan menimbulkan patah hati (istilah dalam pacaran), dan itu akan merusak hubungan persaudaraan sesama muslim, bahkan tak jarang ada seseorang yang bunuh diri gara-2 putus pacaran.

[4] mohon maaf jika pemaparan saya sebelumnya kurang tertata dengan baik, tapi yang perlu anda koreksi ialah pernyataan anda yang menyatakan nabi pernah pacaran. karna pendapat anda mengenai pacaran bisa menjadi sebuah alasan seseorang berpacaran yang secara tidak langsung mengarahkan kepada perbuatan zina… [5] iya kalo langsung nikah kalo masih main-2. he…he… kan kalo memang mau serius langsung nikah saja… [6] kan ALLA SWT sudah menjamin laki-2 baik akan mendapatkan wanita baik-2 (Al-Qur’an) [7] jadi pernyatan untuk mengenal itu hanyalh sebuah alasan saja.

Jawaban M Shodiq Mustika:

0) Kita boleh berbeda pendapat. Kalau bagimu “pacaran itu banyak mudharatnya”, aku mendukung sikapmu untuk tidak pacaran. Namun aku juga mendukung saudara-saudara kita lainnya yang berpendapat bahwa “tanpa pacaran, mudharatnya lebih banyak lagi”.

1) Masalah ikatan pranikah dalam Islam telah kubahas di “Diskusi: Janji Menikah Tapi Belum Khitbah” .

2) Definisi pacaran itu ada banyak, tergantung pada sudut pandangnya. Dalam sudut pandang tertentu, memang percintaan Khadijah r.a dan Muhammad saw. itu bisa saja tidak kita anggap sebagai pacaran. Namun dengan sudut pandang lain, hubungan mereka dapat kita pandang sebagai pacaran. Intinya, dengan menyadari bahwa definisi pacaran itu banyak, kita bedakan antara pacaran yang tidak islami dan pacaran yang islami. Karena itulah, aku tidak sekadar mengatakan bahwa “Nabi Muhammad saw. pernah pacaran”, melainkan juga menambahinya dengan penjelasan “tetapi secara islami“.

3) Putus cinta, patah hati, dan bahkan putus silaturrahim tidak hanya terjadi pada pacaran, tetapi juga pada pernikahan. Bahkan, putus cinta pada pernikahan itu lebih menyakitkan. Sungguhpun demikian, pernikahan tidaklah lantas menjadi haram hanya karena dapat mengakibatkan patah hati yang amat menyakitkan.

4) Sekali lagi aku tegaskan, aku tidak sekadar mengatakan bahwa “Nabi Muhammad saw. pernah pacaran”, melainkan juga menambahinya dengan penjelasan “tetapi secara islami“. Dengan secara islami, kita TIDAK mengarah kepada perbuatan zina.

5) Dalam urusan yang bukan darurat, yang lebih serius bukanlah yang “langsung”, melainkan yang dengan persiapan lebih dulu sematang-matangnya, sehingga tidak main-main. Begitulah yang diajarkan dalam ilmu manajemen.

6) Jaminan Allah “laki-2 baik akan mendapatkan wanita baik-2″ itu benar. Supaya menjadi baik, tentunya kita perlu mengikuti petunjuk-Nya. Allah sudah memberi kita petunjuk untuk berikhtiar semaksimal mungkin, maka mestinya petunjuk-Nya ini kita ikuti.

7) Semua amal kita justru harus ada alasannya. Kita jangan beramal secara asal-asalan! Innamal a’maalu bin niyaat. (Sesungguhnya amal itu [bergantung] pada niatnya.)

Demikianlah jawabanku, semoga cukup jelas.

Definisi & Bentuk Nyata Pacaran Islami

saya pengen tanya: Dari manakah bpk mendapatkan istilah “pacaran islami”; dari alQURAN kah atau hadist atau Qias atau ijma’ulama atau fatwa ulama barangkali atau ada rekomendasi dari ulama?Atau malah jgn2 dari pendapat dan tafsir diri anda pribadi?

Bertanyalah dengan sesopan-sopannya. Al-Qur’an tidak mengajarkan kita untuk bersangka buruk, ‘kan?

Menurut kaidah dari ushul fiqih, semua muamalah itu boleh, kecuali bila ada larangan dari nash secara qathi. (Kaidah2 itu dirumuskan oleh para ulama ahli ushul fiqih berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.) Pacaran itu tergolong muamalah. Jadi, menurut kaidah tersebut, pertanyaan kita seharusnya: Manakah nash yang secara qath’i melarang pacaran islami? Baca lebih lanjut

Benarkah pacaran islami itu hanya masalah istilah?

Seorang pembaca artikel “Pacaran sesudah menikah lebih nikmat?” mempersoalkan empat hal. Pertama, katanya, “Islam sudah memiliki istilah “ta’aruf”, lalu knapa musti ada lg istilah “pacaran islami” ..?” Kedua, dia beranggapan bahwa “pacaran islami” itu (kalau ada) mestinya adalah ta’aruf. Ketiga, dia mengira bahwa kebanyakan pembaca (bacaan islami mengenai pacaran) memaknai pacaran secara negatif. Keempat, kalau ada banyak orang mengartikan ‘pacaran’ dengan makna palsunya, maka dia menyarankan bahwa hendaknya kita ikut menggunakan makna palsu itu. Selengkapnya, dia mengatakan:

ah, itu cuma masalah diksi..
Islam sudah memiliki istilah “ta’aruf”, lalu knapa musti ada lg istilah “pacaran islami” sgala klo artinya sama aja?

yg di buku NPSP [Nikmatnya Pacaran setelah Pernikahan] itu, istilah ‘pacaran’ emg diartikan dgn makna palsunya, kenapa? karna orang kebanyakan jg mengartikan ‘pacaran’ dgn makna palsunya, ya biar nyambung aja bahasanya dgn pembaca..
lagipula ga smua org yg pacaran bermaksud melakukannya dlm rangka mempersiapkan pernikahan.. iya kan? apa belum pernah nemuin pasangan yg berpacaran trus ketika ditanya ttg kpn nikahnya, jawabannya ngalor ngidul kmana2, atau jawabnya “let it flow aja.. skrg jalani dulu yg ada..”, atau salah satunya jelas2 bilang “klo pacar yg skrg dijadiin suami/istri..kynya msh harus pikir2 lagi deh..”

Tanggapan M Shodiq Mustika: Baca lebih lanjut

Pilih Sungguh-Sungguh Islami ataukah Kelihatan Islami?

pak, tidak semua orang membaca keseluruhan blog ini…
saya maklum terhadap orang-orang yang berkomentar “pedas” “cepat” dan “singkat”.

Di satu sisi, aku pun memakluminya. Di sisi lain, aku sangat menyayangkan mengapa aktivis dakwah lebih menaruh perhatian pada “kulit” daripada isi. Kalau aktivis saja sudah begitu, bagaimana dengan obyek dakwahnya?

saya harap bapak juga bisa lebih kalem, lapang dan jelas dalam memberikan tanggapan balik, karena orang yang sejak awal sudah berfikiran keras, akan lebih susah diberi masukan…

Silakan memberi contoh dengan menanggapi sebuah komentar ivan dan beberapa komentar serupa, lalu Baca lebih lanjut

Pengalaman PraNikah Diriku & PraNikah Rasulullah SAW

sekedar ingin tahu….M. Shodiq Mustika dulu nikahnya dengan cara apa??
Apakah sesuai dengan cara yang akhi ungkapkan di sini?
Jujur, saya ragu-ragu tentang perkataan akhi di halaman-halaman ini.
Teman saya nikah dengan ta’aruf, ga pake neko-nekoan didahului soal konsep tanazur segala, sumpah deh, dan kini ia berhasil.
Dan apakah Rasulullah menikah dengan cara “pacaran Islami” sesuai konsep yang akhi gembor-gemborkan di sini?

Demikianlah sejumlah pertanyaan dari seorang tamu blog Tanazhur PraNikah. Berikut ini jawaban dari diriku, M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

Mengapa pakai istilah "pacaran islami"

Image istilah pacaran sudah jauh dari ajaran islam, dan cenderung mendekati zina. Lalu mengapa kita harus menggunakan istilah pacaran islami? mengapa tidak diganti dengan bahasa yang lebih”islami”. Islam tidak mengenal pacaran. Pernikahan dalam islam di mulai dari proses ta’aruf, kitbah/meminang, dan walimah. Aturan dan adabnya sudah jelas. Jangan memaksakan sesuatu yang justru akan membawa ke hal yang bathil, lebih banyak mudhratnya. Selama ini banyak umat islam yang mencari-cari pembenaran bahwa ada pacaran secara islam? jangan hanya menginginkan situs ini hanya untuk tujuan populeritas, apalah arti semua itu diamata ALLAH SWT. Lihatlah dengan mata hatimu, dari berapa komentar yang masuk, ternyata banyak yang mengkritik. Sekiranya memang tidak mau dkritik sesama muslim, apakah kita harus menunggu kritikan ALLAH SWT? Belum terlambat.

Demikian kata seorang tamu blog Tanazhur PraNikah.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

Pacaran Islami ala Quraish Shihab

Sebelum sampai ke jenjang perkawinan, ada satu tahapan/kegiatan yang diatur oleh agama, yaitu khitbah (pinangan) atau “masa pacaran”.

Untuk itu dianjurkan kepada setiap calon suami untuk “melihat” calon istrinya (dan tentu demikian pula sebaliknya). Nabi saw. bersabda:

Lihatlah calon istrimu, karena ia (melihatnya) akan mengundang kelanggengan hubungan kalian berdua.

Baca lebih lanjut

Pandangan yang kontroversial

Alhamdulillah di pengunjung blog ini masih ada yang pikirannya bersih, jernih dan tidak mengedepankan hawa nafsu. Beda halnya dengan si Shodiq ini yang dengan enteng dan dangkalnya mentafsirkan pacaran (yang jelas2 harom) adalah hal yang diperbolehkan bahkan harus didukung bila tidak sampai berbuat zina. Masya’ Alloh!
ini salah satu bukti kemunduran umat Islam saat ini. Yang baru tau sedikit berlagak sok tahu, yang masih belum tahu tanpa pikir panjang mengambil pendapat yang sok tahu tanpa mengkaji dan membandingkan dengan pendapat ulama-ulama lain yang masih hanif.
Yang dapat saya simpulkan dari si Shodiq ini dia orang LIBERAL yang berani mereduksi kandungan Qur’an dan mengkritik Sunnah Rasulullah.Kalau si shodiq dari awal ngaku orang LIBERAL saya gak akan ada masalah dengan tulisan apapun yang kontroversial yang dia tuliskan.
Paling komment saya ini tidak berani dia tampilkan.

Demikianlah kecaman dari seseorang yang menyebut dirinya Kopral Bambang. Berikut ini adalah tanggapan dari saya, M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

Pacaran ala Muhammadiyah

Beberapa hari yang lalu, saya mengunjungi situs Suara Muhammadiyah (SM). Di kotak “Cari Artikel”, saya mengetikkan kata “pacaran”. Hasilnya, saya temui enam artikel yang memuat kata “pacaran”. Empat diantara enam pemakaian istilah pacaran itu dilontarkan oleh orang dari luar SM, sedangkan dua penggunaan lainnya dikemukakan oleh redaksi SM itu sendiri. Dari sini, kita dapat mengamati gambaran sikap Muhammadiyah terhadap budaya pacaran.

Baca lebih lanjut