Curhat: Mau Nikah… Pernah Diperkosa

Ustadz, saya pernah diperkosa oleh paman saya ketika saya masih kecil. Dan itu terjadi hingga 3x. Waktu itu umur saya sekitar 6 tahun .waktu itu juga saya belum tau itu yang namanya diperkosa. Saya baru mengetahuinya ketika sudah dewasa. Sampai sekarang saya tidak tau orang itu di mana. Saya selalu mendoakannya semoga dia mati dalam keadaan paling hina. Itulah doa saya pada nya. Dan rahasia ini saya pendam sampai sekarang. Karena saya malu mengatakannya. Alhamdulillah sekarang saya mulai menghijab diri dengan jilbab seperti yangg di syariatkan islam, dan beberapa bulan yang lalu sya dilamar oleh seorang hafidz quran tetangga saya. Saat ini ia masih kuliah di salah satu negara islam, insyaallah akan pulang dalam beberapa bulan lagi. Dan ia terus mengatakan bahwa ia ingin menjadikan saya umi bagi anak2nya. Sampai saat ini saya hanya diam. Rasanya saya tidak pantas. Tidak adil bagi nya mendapatkan saya. Saya kira lelaki manapun tidak ingin mendapatkan wanita yang pernah diperkosa.

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Baca lebih lanjut

Konsultasi: Restu orangtua dan keluarga

Beberapa hari belakangan ini, aku sering jumpai satu masalah yang serupa: masalah restu orang tua (dan keluarga) untuk menerima calon menantu (atau anggota keluarga baru). Lagi nge-trend ‘kali, ya? Heran deh gue… Meski di blog Pacaran Sehat ini, aku sudah beberapa kali membicarakan persoalan restu orangtua pacar, masih saja ada banyak yang bertanya-tanya.

Jangan-jangan, para pembaca sulit memahami kata-kata yang kutulis. Semoga tidak begitu. Mudah-mudahan mereka yang bertanya itu didorong oleh rasa penasaran dan hasrat untuk peroleh penjelasan yang lebih mendalam.

Paling tidak, Baca lebih lanjut

Curhat: Pilih pacaran atau taaruf?

Pilih langsung pacaran, takut mendekati zina. Pilih taaruf saja, takut tidak ada komitmen yang jelas. Begitulah “dilema” yang dulu ada dalam pikiran “dewi ashuro”, seorang pembaca blog ini. Belakangan, dengan berpandangan secara luas, ia mampu mengatasi “dilema” itu.

Dengan pandangan yang luas pula, ia memperhatikan bahwa hubungan antara pria dan wanita itu bukan melulu mengenai hal-hal seksual, melainkan juga…. Baca lebih lanjut

Curhat: Berjodoh dengan yang kurang baik

saya ali 25 thn, saat ini saya akan dijodohkan oleh orang tua saya pada seorang bidan, dan orang tua saya selalu mengatakan kepada saya, “jika kamu menikah dengan nya hidup kamu akan terjamin” saya tahu orangnya memang baik, tapi sampai saat ini saya belum sepaham dengan pemikiran ibu saya, dan ada suatu ayat Al-quran mengatakan ” baik menurut kamu belum tentu baik menurut Tuhan mu, dan Tuhan mu mengetahui apa yang tidak kamu ketahui ” saya berpikir seorang bidan bukanlah jaminan dalam hidup yang menjamin hidup itu hanyalah Allah SWT, sekarang saya berkenalan dengan seorang perempuan yang bertolak belakang dengan keinginan ibu saya nama “bunga”, saya tahu dulu dia mempunyai latar belakang kurang baik (ibu dan bapaknya bercerai) sekarang dia tinggal di surabaya, ibunya di china dan bapaknya di australi, di surabaya dia tidak ada keluarga, dan saya merasa kasihan kepada dia, dan saya ingin merubah hidupnya untuk menjadi yang lebih baik, untuk lebih dekat dengan Allah SWT. pertanyaan saya…SALAHKAH SAYA MENCINTAINYA, SALAHKAH SAYA BILA MENIKAHINYA.

Baca lebih lanjut

Konsultasi: Cara mudah mencari pacar

Assalamu’alaikum. Wr. Wb.
Pak M Shodiq Mustika, nama saya Moh. Gagan, sy seorang ikhwan, usia sy skrang 21 th.
Pak M Shodiq jujur saya mulai suka kepada lawan jenis sejak SD saya sudah mulai menyukai kepada lawan jenis (akhwat), namun yang menjadikan beban hidup saya ini adalah jujur sampai sekarang saya belum pernah merasakan sekalipun apa itu pacaran, namun saya sebagai ikhwan saya normal karena saya tiap melihat akhwat yang cantik jujur perasaan degdegan mulai bangkit, perasaan suka mulai bangkit, mungkin ini curhat tapi saya pernah merasakan satu kali rasanya jatuh cinta yang sangat luar biasa yang pernah saya alami, ini benar-benar sesuatu hal yang tidak saya harapkan tapi perasaan itu timbul dari mata turun ke hati saya yang paling dalam kejadian itu memang terjadi pada bulan april 2008 kepada anak mahasiswi yang seangkatan sama saya.
saya sekarang Mahasiswa mau ke semester 5, ju2r saya sudah berani perhatian, ngerayu-ngerayu, sampai nembak ke ikhwan mulai semester 3 perguruan tinggi.

Demikian Dik Gagan memulai curhat dan sekaligus konsultasi. Selanjutnya, Baca lebih lanjut

Curhat: Ketika Harus Pacaran

Saya pernah mendapat saran dari seorang pembaca blog ini mengenai kapan masa yang tepat untuk pacaran: SD, SMP, SMA, ataukah sesudahnya, khususnya bila dikaitkan dengan tujuan pacaran. Kebetulan, saat browsing tadi malam, saya menjumpai sebuah curhat yang relevan dengan persoalan tersebut. Saya mendapatkannya dari CPU’s Life Journey: Ketika Harus Pacaran.

Baca lebih lanjut

Sebuah debat sengit mengenai "izin berzina"

Pada beberapa waktu yang lalu, berlangsung sebuah diskusi panas di MyQuran. Topiknya, hukum pacaran dalam Islam. Di situ, ada beberapa perdebatan sengit yang menarik untuk kita petik hikmahnya. Satu diantaranya, Kaezzar vs Nursandhi. Siapa Kaezzar, saya tidak tahu. Sedangkan Nursandhi adalah seorang “salafi” yang amat getol menentang keberadaan blog kita, Pacaran Islami. Dialah yang membangun blog pacaranislamikenapa. Di MyQuran, Nursandhi menggunakan nickname: l4tahzan. Berikut ini sebagian dari perdebatan mereka berdua, yang saya sisipi dengan sedikit komentar.

Baca lebih lanjut

Penulis Romantis (2): Jalan Sunyi

Prolog

“Aku akan mengisahkannya dengan menahan napas. … Ada jalan setapak yang bercabang di hutan rimba. Aku mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Ternyata jalan itu menghasilkan perbedaan yang amat besar,” ujar Robert Frost dalam “The Road Not Taken”.

Seperti Robert Frost, aku juga mengambil jalan yang jarang dilalui orang. Ketika ribuan orang mendambakan profesi mapan selaku dosen-tetap universitas kenamaan, aku justru melepaskannya “hanya” untuk merintis karir menjadi penulis buku. Ketika milyaran orang berdesak-desakan di jalan tahta dan/atau jalan harta, aku malah meluncurkan diri di jalan ilmu nan sepi. (Untuk penjelasan mengenai mengapa kupilih jalan yang sunyi ini, lihat Penulis Romantis (1): Persimpangan Jalan.)

Lantas, apakah jalan ilmu yang kupilih ini berdampak besar pula bagi kehidupanku?

Baca lebih lanjut