Perlukah kita mempelajari ilmu cinta? Mengapa?

Di sekolah atau di kampus, kita diajari banyak ilmu dan pengetahuan. Diantaranya: matematika, bahasa, olahraga, ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, dan masih banyak lagi. Ilmu-ilmu seperti itu tentu bermanfaat bagi kehidupan kita. Alhamdulillaah… seandainya kita tidak pernah mempelajari ilmu-ilmu itu, apalah jadinya diri kita kalau bukan seperti katak dalam tempurung?

Akan tetapi, bagaimana dengan ilmu cinta? Apakah sekolah kita selama ini sudah mengajari kita ilmu cinta? Ataukah orangtua kita sudah mengajarkannya kepada kita dalam kehidupan sehari-hari? Kalau mereka telah mengajari kita, itu sudah memadaikah bagi kita?

Kita sering menyaksikan, ada orang yang amat cerdas di bidang matematika atau bahasa atau olahraga atau yang lainnya, tapi mendadak “berubah” menjadi tolol banget manakala berhadapan dengan cinta. Ada apa gerangan? Apakah kita tidak perlu cerdas di dunia cinta? Kalau tidak perlu, mengapa? Kalau perlu, mengapa?

Seraya terus bertanya-tanya dan berusaha mencari jawabannya, alangkah baiknya bila kita perhatikan “Kata Pengantar” Ibnu Qayyim, sang pakar cinta, di buku Taman Jatuh Cinta. (Versi online-nya baru saja kami tampilkan di http://juziyah.wordpress.com/kata-pengantar/ .) Insya’ Allah dari situ kita bisa mendapatkan gambaran mengenai seberapa kecil atau seberapa besar pentingnya mempelajari ilmu cinta. Silakan menyimak.

About these ads