Konsultasi: Bagaimana Akhwat Mengatasi Virus Merah Jambu

Ustadz M.Shodiq yang saya hormati. Saya [seorang akhwat] ingin bertanya kepada Ustadz. Mengenai beberapa hal, bolehkan Ustadz?
Saya Mahasiswi Smester 1, Umur saya 18 tahun. Maret ini 19 thn. sebelum memasuki dunia kuliah. saya memang telah mengenakan Hijab.
Setelah tamat, Allah menganugrahi saya Nikmat Ukhuwah dengan memperkenalkan saya dengan saudara2 Akhwat yang berkecimpung didalam Aktivis Penyiaran Radio Dakwah Mujahidin dikota saya. Saya bersyukur sebelum memasuki dunia kuliah, Allah mengizinkan saya ntuk memiliki teman Saleh & saleha pilihan Allah, banyak perubahan yg saya Alami, terutama ghiroh smangat saya dalam mendalami Islam, didukung lagi ketika saya memasuki dunia kuliah, ana seperti terbawa didalam keindahan Ukhuwah para Aktivis Dakwah kampus. & Mulai saat Itu hingga saat ini, ana semangkin semangat mendalami Islam, mendalami Tarbiah, meningkatkan amalan Sunnah, Menghadiri Majelis Ta’lim Sepekan 2X, Diluar kampus, Ana Liqo’an bersama Teman Ana diMujahidin kebetulan beliau adalah Murrabbi ana. & dikampus, kaka’ Tingkat ana yang menjadi Murrabbinya. Setelah ana Resmi mereka bina & sukses membuat ana menjadi seorang Akhwat (entah lah, itu kata mereka, meski Jilbab lebar, Rok & kaos kaki mati-mati’an ana pertahankan, Ana merasa Ana belum pantas dikatakan seorang Akhwat, karna Ana tetap merasa seorang Muslimah Yang Ammah & minim penghayatan untuk mengaplikasikan Apa yang teman2 Akhwat & Murrabbi ana katakan), salah satunya Mengenai PACARAN,

yang ingin saya tanyakan Ustadz.
Wktu pertama kali Ospek ana nyeleneh ketika senior2 Pria Meminta Nomer Hp Ana (afwan Ana pun memberinya). Lalu Ana sering mendapat salam dari kaka-kaka Tingkat untuk ana, bahkan ada yang meminta nomer Hp ana melalui teman kelas Ana, pertama tidak anak kasi, karna keseringan meminta lagi, ana pun luluh & memberi kan nya.
Lalu sering nya ana mendapat pesan singkat berupa perhatian berupa peringatan untuk shalat, menanyakan kabar, bahkan masalah sudah makan atau belum, jujur (Ana Risih dibuatnya).

Dilain itu, ada seorang Pria diluar lingkungan Kampus Ana, & berstatus duda ingin melamar ana. Ana kenal dengan pria ini ketika ana masih duduk dibangku kelas 3 SMU, dulu ia belum menikah pun mau langsung menikahi ana, ana bingung kala itu Ustadz, selain tak memiliki Rasa Cinta, ana pun masih berstatus plajar (afwan, pria ini Ikhwan yang slalu menjaga shalat & terlalu Fanatik, dulu ana tak senang karna Ana dulu masih berstatus Jahil & belum menjadi Akhwat, jd ana masih begitu down ketika Langsung diajak menikah) kenyataan nya saat itu, ana pun menolak nya, dengan Alasan masih ingin melanjutkan. Meski ketika itu ana terlintas fikiran (Afwan Ustadz, Afwan Jiddan, ketika ana masih jahil, ana berfikir, “gw Mainin aja ni Orang” [kebetulan pria tersebut adalah salah satu Oknum kepolisian], “Alhamdulillah, hal tersebut tak ana Lakukan). Malas menunggu Ana, Pria itu pun Menikah, namun Allah berkehendak lain, kurang dari 1O bulan, Istrinyapun Meninggal ketika Persalinan. Ana mendapat kabar ketika Ana baru Mendaftar diperguruan Tinggi, saat Itu, ana belum kenal teman2 Akhwat Ana diMujahidin Maupun para Aktivis Dakwah kampus, ana masih sempat Bertemu dgn Pria tersebut, setelah Memasuki dunia kuliah, semua Pemahaman serta Doktrin yang melekat diotak ini pun seketika berubah.
Saat pertama2 Liqo’ ana sempat VMJ dgn salah seorang Ikhwan yg selalu berghadul Bashar, selain Tampan Ikhwan tersebut juga memikat Teman2 Ana yang Ammah Untuk ikut Mentoring demi tu Ikhwan. Ustadz Ana bingung saat itu, ana berani bermain api. Sementara nurani ana berkata itu fitrah, namun nurani lain berkata bahwa itu Nafsu. Ana pun sharing bersama Murrabi Ana yang berada diMujahidin (Aman, krna beliau tak bersosialisasi bersama ana dikampus), 1 kata yang buat ana patah arang yaitu; “pasti Ikhwan Tersebut ga’ mau diajak Pacaran” Lemah ana pun menjawab “iya sich” minggu2 berikutnya ana mulai terbuka pada salah seorang Akhwat, Yang sangat Ana percaya, meski tak bilang ana VMJ dgn Ikhwan Partner Sejati mereka. Singkat Ana menjelaskan, bahwa ana sedang terserang VMJ. Beliau hanya menjawab “berpuasalah, & meminta pertolongan pada Allah”.
Yah ana paham, mulai saat itu, ana pun mulai membenahi diri, ana bercermin, ternyata begitu banyak Noda dihati ana, “Astaghfirullah hal Azzim”.
Alhamdulillah Ustadz, berkat pertolongan Allah, Penyakit VMJ (VIRUS MERAH JAMBU) Ana pun sembuh.
Setelah ana melewati Ujian tersebut. Ana Lagi2 mendapat Ujian. Yaitu dari pria duda yang ana bahas diatas, Mengajukan Lamaran kembali, ditahun 2OO9 ini, ia akan Ta’ruf dengan Keluarga Ana. Jujur Ustadz, perasaan ana ketika jahil dulu berbeda dgn sekarang. Ana yg kini faham dengan Prosesi ta’ruf, Pacaran setelah nikah, / pacaran secara Islami, mulai simpati dengan kesalahen (afwan dulu ana tak melihat dari kesalahen nya, melainkan kepoloson, kekunoan bin kampungan, fikir ana saat itu, “Lha ni Orang mau nikahin Orang yang belum dikenalnya terlebih dahulu”).
Ya Ustadz,
sekarang ana benar2 didalam kebingungan, Ana malu untuk berbicara pada Murrabbi ana. Ana hanya bisa berdoa, memohon yang terbaik dari Allah.

Yang ingin Ana Tanyakan Ustadz:

1). Haruskah Ana menerima Lamaran nya, agar tak terjadi Fitnah, jika ia sillaturahim kerumah Ana seorang diri, sementara Ana, tentu pasti berkhalwat dgn ny berdua meski diruang tamu dgn Cahaya Lampu yang begitu terang?

2) Apakah bisa cinta itu tumbuh sementara Ustadz Sendiri tau bahwa kami jarang sekali bertemu.

3) bagaimana ketika Ana memilihnya, tiba2 Ikhwan yang tadi ana ceritakan kpn2 bs membuat hati ini kembali Terserang “Naudzubillah” Ustadz tau bukan, meski sudah sembuh dr VMJ diatas. Ikhwan tersebutlah yang pertama menanamkan bibit VMJ Trsebut?

3) apakah berdosa jika ana kembali mematahkan hati sang duda untuk ke 2 kali ny. Dgn menyuruhnya menunggu ana selesai kuliah, sementara selama prosesi (insyaAllah wisuda) berlahan Ana mencari Ikhwan yang jauh lebih baik lagi, apakah itu suatu kedzaliman?

4) apa kah benar, suatu ketika MR ana berkata, “jika kita keburu-buru didepan ada seseorang yg Mungkin Mapan meminang kita sekaran” akan menutup jalan kita untuk mendapat kan yang lebih baik nya lagi kedepan?

5) bagai mana jika suatu saat, ana melepaskan duda tersebut, dan kedepan ana pun tak mendapatkan Ikhwan yang ana inginkan? Apakah pilihan Ana?
Menerima Lamaran nya kah, atau menolaknya?
Bagaimanakah dgn Ikhtiarnya Ustadz?

6) ustadz, apa kah dengan menikah, ana lebih bisa menjaga hati, atas risih nya ana dengan SMS kaka’ COWO tingkatan ana trhadap ana?

7) Ustadz, bolehkah jika saya mengajukan Proposal bagi Pria yg Ingin melamar saya ini, dengan Proposal kesepakatan, bahwa ia harus menjaga Prefesi ana, terutama dalam Hal Dakwah, kampus, ta’lim, Pengajian, ataupun Taujih. Serta Agenda2 keagamaan Ana lain nya?

8) Ustadz, lalu jika salah satu Poin diatas tak ia setujui, bolehkah saya menolak Lamaran nya. Dengan Alasan, bahwa ana harus& wajib memegang Amanah dakwah. (meski ana harus berimbang dalam hal2 mengurus rumah Tangga).

9) ustadz Ana takut salah niat, menerima Lamaran nya saat sekarang, hanya karna ia telah Mapan secara Materi, Memiliki Rumah Pribadi, Mandiri & (kesalehannyapun yang ana tau, shalat berjamaahnya yg tak lepas), namun Ana belum mengetahui amalan2 Sunnah Lain &tarbiah nya, meski ia bersosialisasi dilingkungan Ikhwan Santri.

1O) Bagaimana cara ana menjelaskan Prihal ini jk Ia menyetujui Proposal permintaan ana, & ana menerima lamaran nya. Kepada Orang tua, Teman, keluarga, & MR ANA?
(NB: Pria tersebut juga kini sedang melanjutkan kuliah PROGRAM Ekstensi DiSTAIN jurusan Dakwah).

USTADZ, ana berharap Ustadz Menjawab 1O Poin pertanyaan ana. Jikalaw ada, boleh kah ana meminta Hadits/ Ayat Quran mengenai persoalan ana Ustadz.
Agar ana Mantap dalam mengambil keputusan. Afwan Ya Ustadz.
Terlalu panjang & merepotkan, smoga dalam membaca curhat Saya ini, Ustadz diberikan Waktu yang Penuh barokah Oleh Allah SWT.
Smoga Uneg-Uneg ini, mewakili keragu-raguan ana, dalam memilih, bersikap & menentukan keputusan. Agar tak ada penyesalan kedepan.
Wallahualam.
Maafkan ke daiffan ana jika terdapat kata2 yang kurang berkenan bagi Ustadz. Ana Mohon Maaf sebesar2 nya. Dan berharap, agar Ustadz Membacanya secara Terperinci. Serta jawaban yang Mengalir dari Ketulusan Hati Ustadz. AMIN

JAZAKUMULLAH Ustadz..!!

Alhamdulillaah… Ana bersyukur dipercaya mendapat pertanyaan yang cukup banyak dari seorang shalihah.

Dengan pertanyaan yang cukup banyak itu, ana membutuhkan waktu untuk menjawabnya satu demi satu. Sekarang, ana hendak menyampaikan jawaban yang singkat lebih dulu. Namun sebelum itu, ana mau bertanya kepada ukhti:

Dari mana ukhti mendapat alamat eMail ana ini? Buku ana yang manakah yang pernah ukhti baca? Blog ana yang manakah yang pernah ukhti kunjungi?

Jawaban ukhti atas pertanyaan-pertanyaan ana tersebut akan memudahkan ana nanti dalam menyampaikan jawaban rinci atas pertanyaan-pertanyaan ukhti kemarin.

Sekarang, ini dia jawaban singkat ana:

Dalam waktu dekat ini, Ukhti belum perlu menjalin ikatan pranikah, apalagi ikatan pernikahan. Bagi ukhti saat ini, pernikahan belum menjadi kebutuhan yang mendesak. Yang lebih mendesak bagi ukhti saat ini, selaku aktivis dakwah “tingkat pemula”, ialah lebih mendalami ilmu agama dari berbagai sumber. (Afwan, ana tidak bermaksud merendahkan ukhti dengan menyebut “tingkat pemula”. Ana hanya ingin ukhti tetap tawadhu’.)

Memang, “menunda” pernikahan (ketika kesempatan itu tiba) ada risikonya. Akan tetapi, ana yakin ukhti mampu menjaga diri dari berbagai fitnah.

Demikian jawaban singkat ana. Insya’Allah jawaban rincinya akan ana sampaikan dalam beberapa hari mendatang.

Sebelum nya ana mau mengucapkan terimakasih kepada Ustadz, yang telah mau menanggapi pertanyaan Ana. Meski 1O pertanyaan Ana, belum Ustadz tanggapi dan Ustadz paparkan, pun demikian Ana bersyukur kepada Allah SWT. Bahwa sesibuk nya Ustadz dengan Rutinitas yang begitu padat, sudi Menanggapi Email dari Ana. Sukron ya Ustadz.

Seperti yang Ustadz tanyakan dari Email Ustadz kepada Ana, Ana akan Menjawab dengan jujur karna Allah..!!

¤Ana Mendapat Email Ustadz dari salah satu blog Ustadz yang (entahlah tulisan nya seperti apa, afwan Ana Lupa) ana mengklik salah satu bagian link paling bawah dengan Maksud, agar Ana dapat berlangganan Artikel Ustadz di Email Ana.

¤saya memang pengagum buku, saya pun menemui Hidayah melalui buku. Ketika saya SMP, Buku Pertama yang saya Miliki (itu pun pemberian seseorang) berjudul Bahan Renungan Kalbu karangan Alibasya. Itulah buku yang memancing saya tuk menuju jalan Illahi & lebih tertarik memahami Agama,

lalu ketika SMA, (kelas 1 Tepatnya) Saya Membeli buku Fiqih dari seorang Teman, ketika buku itu sah Menjadi Milik saya. (saya menghubungi nomer Handphone yang Tertera didalam nya, ternyata buku itu) masih milik yang Empunya. Hari itupun saya bertekad tuk mengembalikan. Setelah saya hubungi dan sedikit diskusi, yang Empunya bukupun mengalah & Memberikan buku Fiqih Gaul Remaja itu kepada Saya. (banyak perjalanan Unik yang saya temui, & semuanya berawal dari sebuah buku. & masih banyak lagi. Mungkin tak cukup kata ntuk saya menuangkan nya.)

Kemudian Perjalanan dari kelas 1 s/d kLs 2 SMU, ana membenam kan diri pada buku2 Islami, dari Karangan Dr. Aidh al Karni, Novel2 karangan Habiburahman, Andrea Hirarta (ana pun Anti buku bajakan) dan Masih banyak Lagi, dari itu semua, kelas 3 sayapun Istiqomah mengenakan kerudung (belum Jilbab). Ketika Tamat. Ana Terseret dalam perkumpulan para Akhwat & Teman2 LDK ana di kampus, mereka benar2 bersemangat Mempengaruhi ana, mulai dari Taujih, Tata cara pergaulan, Penampilan, buku-buku apapun mereka pinjamkan, terutama Akhwat Kampus ana. Disitu Ana mulai lebih ingin berpenampilan Syar’i, namun dari itu Semua, Ana Mulai kurang Membaca Novel kembali.

Semenjak ana memasuki dunia kuliah, ana berfokus pada studi, tak ada lagi waktu kosong seperti Ana SMU dulu. Sekarang ana sungguh sulit mengatur waktu, antara Study, Tugas Personal, sillaturahim kegiatan keagamaan dikampus lain, bahkan jdwal liqo’an Ana, terkadang bentrok dengan jam kuliah Ana.

Karena itu Ustadz, Ana ingin berbicara dengan jujur. Dari buku-buku karangan Ustadz belum ada satu pun yang ana baca. Namun ana akan Mencari novel Istikharah Cinta yang ana begitu penasaran (pernah ana Lihat & Ana dengar dari pembicaraan para Aktivis, Novel tersebut sudah Tak Asing Lagi). Hanya Tinggal Ana, yang menunggu waktu Kosong Pasca Ujian (yang didominasi waktu yang Tepat untuk Refresh ria, bersama buku2 Tercinta, karangan siapa pun juga. Asal bukan buku2 kuliah)

itulah Jawaban Ana. Mengenai buku2 Karangan Ustadz yang Lain, ana Sering Melihatnya diInternet dan Ana berfikir, kapan ana bisa memilikinya, seperti Mudah nya Ana membeli Novel2 atau buku2 Islami ketika Ana duduk dibangku SMA dulu. & ana menrasa ada sebuah perubahan yang jauh pada saat sekarang. Dimana ana harus mendahulukan buku-buku kuliah, Foto copy’an, tugas-tugas Makala, Presentasi, pengeprinant, & pengeluaran kuliah Lain nya (Afwan Ustadz, belum berpenghasilan Gituch. yach, masih Nadah sama Ortu).
Itulah jawaban Ana. Yang ana Jawab Jujur karna Allah.

¤kemudian Ana mengetahui Ustadz dari salah Satu blog Ustadz, Yaitu http://pacaranislami.wordpress.com. Dari Opini & kementar hampir tlah Ana baca keseluruhan. Banyak yang Pro & kontra disitu, terutama mengenai Judul tema Ustadz, Pacaran Islami. Pertama melihatnya (afwan Ustadz, Ana pun begitu kurang Simpati, ana Rasa islam tak Pernah Mengenal kata pacaran, bukankah itu budaya barat, meski secara jujur belum sepenuhnya juga dapat ana terima, bertolak belakang pada Doktrin ana, Namun ana harus Lebih menghancurkan Keegoisan, meleburkan Keinginan Ana untuk memahami pacaran secara Islami (bahwa itu tak pernah Ada) dan Ana sebagai yang Ammah, harus Tetap berpegang Teguh pada Al-Qur’an&Sunnah, bahwa pernikahan merupakan sebuah Ibadah, bukan Nafsu. Namun setelah ana membaca Artikel2 yang Lain, dan di linK
(a but Of love Islam, afwan Ya Ustadz kalo tulisan nya salah). Ana jadi paham dan mengerti, Mengenai maksud, tujuan serta Ikhtiar yang sering Ustadz katakan.

Mengenai Ustadz yang Mengatakan ana adalah seorang Aktivis Pemula. Itu tak sama sekali membuat Ana merasa amarah, justru Ana senang dengan tanggapan, Masukan, serta komentar dari Ustadz.
Semoga Allah yang dapat Membalas seluruh kebaikan, waktu, serta ilmu yang slalu Ustadz sampaikan.
USTADZ” Ana harap jawaban Ana yang sederhana & begitu apa adanya dari seorang yang Ammah. Dapat Ustadz Terima.

Ini Jawaban jujur dari Ana.
Terimakasih Ustadz Atas Tanggapan nya. Yach, Lagi2 ana hanya dapat berdoa, Semoga Allah lah yang Membalas kebaikan Ustadz.

Alhamdulillaah… Akhirnya hari ini ana dikarunaiai kelonggaran oleh Sang Mahakuasa untuk menyampaikan jawaban yang lebih rinci terhadap sepuluh pertanyaan ukhti di atas. Maaf, ya, ternyata setelah beberapa bulan, barulah ana sempat menjawab pertanyaan ukhti sebagai berikut.

1. Tidak semua khalwat dengan nonmuhrim itu terlarang. Ada jenis khalwat yang dibolehkan, yaitu yang berada dalam keadaan terawasi. Berkhalwat di ruang tamu yang terbuka, dengan cahaya lampu yang begitu terang, sehingga tak memungkinkan untuk berzina, itu tergolong berada dalam keadaan terawasi, sehingga boleh-boleh saja.

Penjelasan mengenai hal ini dapat ukhti simak di “Pacaran Islami ala Quraish Shihab“. Adapun dalilnya di “Shahihnya Hadits Yang Membolehkan Berduaan“.

2. Ya, cinta antara pria-wanita itu bisa tumbuh meskipun diantara keduanya jarang bertemu, bahkan juga walaupun tidak pernah bertemu. Bandingkan dengan cinta kepada Allah dan rasul-Nya. Walau tak pernah bertatap-muka, tetaplah bisa tumbuh cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya.

“Hai orang-orang yang percaya! Barangsiapa di antara kalian yang berbalik dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut kepada orang-orang yang percaya, yang bersikap keras kepada orang-orang yang ingkar, yang berjuang di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang Mahaluas lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Maidah: 54).

3. Apabila masih hendak mencari yang lain, jangan menyuruh dia menunggu. Dengan kata lain, kalau menyuruh dia menunggu, jangan mencari lagi yang lain. Sebab, menyuruh dia menunggu itu berarti membuat janji yang bisa dia dipahami sebagai ikatan pranikah atau penerimaan lamaran (khitbah).

Setiap perjanjian mengandung ikatan yang sah dan jelas. “Sungguh, setiap janji itu akan diminta pertanggungjawaban.” (al-Israa’ [17]: 34) Ada ancaman berat, “Barangsiapa melanggar janjinya, maka akibat pelanggarannya akan menimpa dirinya sendiri,” sedangkan kepada orang yang menepati janji, Allah memberi “pahala yang besar” (QS al-Fath [48]: 10).

4. Ya, MR uhkti itu berkata benar bahwa keputusan yang terburu-buru dapat menghalangi kita untuk memperoleh yang lebih baik atau bahkan yang terbaik. Supaya memperoleh yang terbaik, Islam menganjurkan kita untuk melakukan istikharah. Supaya tidak terburu-buru, Islam menganjurkan kita untuk beristikharah berulang-kali.

Untuk penjelasan lebih lanjut beserta dalilnya, lihat buku Istikharah Cinta.

5. Untuk mendapatkan jodoh terbaik, kuncinya bukanlah menemukan orang yang paling tepat. Sebab, jodoh “paling tepat” yang disediakan Allah bagi kita itu ada banyak. Dalilnya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian jodoh-jodoh dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang.” (QS ar-Ruum: 21)

Supaya benar-benar berjodoh (yang terbaik), kuncinya adalah “perawatan” terhadap “jodoh-jodoh” yang telah Allah sediakan bagi kita. Untuk ikhtiarnya, lihat “Daripada menunggu jodoh, lebih baik …

6. Menikah dapat membentengi kita dari godaan zina, tetapi bukan jaminan bahwa kita akan lebih mudah menjaga hati. Sebab, pasukan iblis menggoda kita dari segala penjuru. Allah SWT telah berfirman kepada iblis, “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka [keturunan Adam a.s.] dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. …” (QS al-Israa’ [17]: 64)

Secara demikian, godaan syetan terhadap orang yang sudah menikah akan berbeda dengan yang belum menikah. Untuk lebih jelasnya, lihat “Sulitkah menjaga hati dalam pacaran islami?

7. Ya, boleh. Kedua pihak sama-sama boleh mengajukan syarat untuk ditetapkan sebagai perjanjian. Dalilnya adalah seperti pada nomor 3 di atas.

Perjanjian pranikah seperti itu lebih baik tertulis daripada lisan. Dalilnya: “Hai orang-orang yang percaya! Apabila kalian bermu’amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya … .” (QS al-Baqarah ayat 282)

Catatan: Ada sejumlah “ahli agama Islam” yang berpendapat bahwa perjanjian sebelum menikah itu boleh dilanggar. Mereka menyangka bahwa pernikahan itu menghalalkan semua antara suami-istri. Mereka lupa bahwa “setiap janji itu akan diminta pertanggungjawaban.” (al-Israa’ [17]: 34) Oleh karena itu, pastikanlah bahwa dia tidak sependapat dengan “ahli agama Islam” tersebut. Mintalah dia untuk berjanji secara tertulis untuk memenuhi syarat yang ukhti tetapkan.

8. Jika dia menolak syarat-syarat tersebut, tentu saja ukhti berhak menolak lamarannya. Sebab, asas mu’amalah (termasuk nikah) adalah rela sama rela. Tidak boleh ada paksaan.

Untuk penjelasan lebih lanjut beserta dalilnya, lihat “Walau Bukan Siti Nurbaya“.

9. Supaya lebih mantap dalam berniat menikah dengan si dia, Rasulullah saw. menganjurkan kita untuk melakukan “pengamatan” (tanazhur) yang lebih cermat. Sabda beliau yang diriwayatkan oleh Jabir bin Abdillah ra: “Idza khathaba ahadukum al-mar’ata fa in istathâ’a an yanzhura minhâ ilâ mâ yad’uw ilaa nikahiha fal yaf’al.” (Jika seseorang diantara kalian hendak melamar seorang perempuan, maka jika ia mampu mengamati perempuan itu pada apa yang mendorong menikahinya, maka lakukanlah). [HR. Ahmad dan Abu Dawud, dan disahihkan oleh al-Hakim. Lihat Imam Ash-Shan’ani, Subulus Salam, jld. III, hal. 113].

buku Istikharah Cinta10. Salah satu bagian dari proses istikharah adalah musyawarah. Jadi, yang terpenting bukanlah memberi tahu mereka, melainkan bemusyawarah dengan mereka. Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini, silakan simak buku Istikharah Cinta.

Demikianlah jawaban ana, wallaahu a’lam. Semoga dengan konsultasi ini, kita menjadi dicintai dan semakin dicintai oleh Sang Maha Penyayang. Aamiin.

About these ads

Satu tanggapan

  1. Assalamu’alaikum, ustadz…
    Maaf mengganggu waktunya sebentar, hari ini saya baru saja membaca blog milik ustadz yang isinya bener2 bagus banget!Baru kali ini saya tau kalau ada ustadz yang ahli dalam bagian asmara tanpa keidealismeannya. Kesannya saya ingin sekali menjadi bagian dari pembaca yang bisa berdialog dengan ustadz, apalagi kalau bisa secara langsung, he… Saya juga punya masalah yang mungkin sama dengan masalah anak muda pada umunya ustadz, yaitu tentang pacaran. Dulu waktu masih sekolah saya sangat anti dengan yang namanya pacaran karena menurut saya, pacaran itu bagian dari maksiat yang hanya akan menambah dosa. Tapi sebenarnya semua itu saya fikirkan semata-mata hanya untuk mencari sosok laki2 yang sesuai dengan keinganan saya. Saya tau mungkin saya terkesan munafik, karena mulut saya berkata “tidak” untuk pacaran tetapi hati saya berkata “iya”. Namun sekarang semua fikiran itu sedikit demi sedikit hilang dari benak saya, saya gak tau kenapa? apa mungkin karena sekarang saya bertemu dengan sosok laki2 yang menurut saya sangat shaleh, baik, sabar, dll. Ustadz, sekarang yang jadi masalah buat saya, apakah Allah marah bila saya menjalin hubungan (pacaran) dengan laki2 itu? setiap kali saya bersama dengan laki2 itu, saya merasa malu sekali. Bukan malu kepada orang2 melainkan malu kepada Allah. Saya takut Allah tidak suka saya berdekatan dengan yang bukan muhrimnya. Saya kadang berfikir seandainya, Allah menghendaki saya untuk menikah dengan laki2 itu supaya tidak ada fitnah dan kami tidak berbuat maksiat, saya tidak akan menolak. Karena ini semua adalah yang pertama dan saya harap ini juga yang terakhir buat saya. Tapi semua itu masih belum bisa terjadi sebab kami masih sama2 kuliah dan belum bekerja. Kami masih punya banyak cita2 yang ingin kami capai, apalagi ortu kami belum menyetujui kami untuk menikah karena dianggap masih muda. Lantas menurut ustadz, apakah boleh kami tetap menjalani hubungan kami seperti ini tanpa ada ikatan apapun sampai kami benar2 telah siap lahir dan batin untuk menuju kejenjang pernikahan? jujur ustadz, saya takut harapan kami tidak akan bisa terwujud, karena ada yang bilang “jika kita menunda sesuatu hal yang baik maka hasil akhirnya belum tentu menjadi baik”. Dan juga segala sesuatu pasti bisa berubah sesuai dengan kehendak Allah. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi esok, bisa saja hal terburuk akan menimpa kami. Namun saat ini saya hanya bisa tawakkal kepada Allah karena saya merasa sudah cukup berikhtiar dan berdo’a kepada-Nya.Tapi ikhtiar dan do’a yang saya panjatkan tidak akan pernah berhenti sampai Allah benar2 mau mengabulkannya. Amin…
    Mungkin cukup sekian dulu komentar dan curhatan dari saya ustadz, saya sangat berharap sekali dengan jawaban2 ustadz yang insyaallah bisa menenangkan fikiran saya. Afwan ustadz, untuk kata2 saya yang kurang berkenan di hati ustadz,. mohon dimaklumi karena saya masih termasuk orang yang awwam. sekali lagi maaf dan TERIMA KASIH….
    Wassalamu’alaikum…

Komentar ditutup.