Hubungan Tanpa Status, perlukah kejelasan?

3 Januari 2009

Saya seorang wanita usia 21 tahun. Diam2 saya menaruh hati pada seorang lelaki yg usianya 6 tahun diatas saya. kebetulan dy tetangga saya. Saya suka sejak saya masih SMP sekarang saya sdh kuliah. Entah kenapa perasaan itu blm hilang sejak lama. Sampai pada akhirnya ketika saya ingin berubah menjadi akhwat sejati yg tidak mau pacaran tiba2 dy datang menghampiri. Sering sms, bahkan sering ungkapkan kata2 manis yg isinya kalau dy ingin saya jadi miliknya. Yg mau saya tanyakan apakah laki2 itu serius jika mengungkapkan sesuatu? Saya khawatir hanya keGRan. Tapi setiap saya tanya dy bilang serius. Awalnya saya merasa minder karena dy punya ilmu agama lebih dari saya, dakwahnya juga bagus. Tp terakhir kali sms, dy bilang dy minder sama saya, merasa tdk pantas untuk saya. Saya pernah ungkapkan ke dy bahwa ckp tau saja kita sama2 suka, karena saya tidak mau pacaran, tidak mau jalan ber2. Sekarang semua penuh dengan ketidakjelasan… Mohon komentarnya…terima ksaih sudah mau membaca keluh kesah saya…

Tanggapan M Shodiq Mustika:

Aku akan berusaha menjawab pertanyaanmu sebatas pengetahuanku.

Terus terang, aku belum mengerti apa yang kau maksud dengan “akhwat sejati”. Selama puluhan tahun belajar agama Islam, belum pernah kujumpai dalil yang menganjurkan kita untuk menjadi ikhwan/akhwat sejati. Yang kutahu adalah perintah untuk menjadi mukmin, muslim, muhsin, shalih, ‘alim, ‘arif, dan sebagainya. Namun kalau yang kau maksudkan ini ada kaitannya dengan gerakan Ikhwanul Muslimin (IM), lebih baik kau bertanya kepada para pemimpinnya. (Aku hanyalah simpatisan IM, bukan anggotanya.)

Mengenai pandangan IM tentang pacaran, yang kutahu adalah bahwa para ulama IM tidak sepakat mengenai hukumnya. Sebagian besar tampaknya memandangnya sebagai makruh, tetapi sebagian lainnya justru memandang bahwa “pacaran islami” berhukum sunnah. (Lihat Benarkah ulama Ikhwanul Muslimin mengharamkan pacaran? (1) dan Benarkah ulama Ikhwanul Muslimin mengharamkan pacaran? (2).)

Mengenai “apakah laki2 itu serius jika mengungkapkan sesuatu?”, dulu aku pernah mengungkapkannya di artikel “Cara Praktis Mendeteksi Kesungguhan Cintanya“. Sekarang aku hendak menambahinya dengan berdasarkan pandangan istriku.

Dulu sebelum kami menikah, kami pun berada dalam keadaan “hubungan tanpa status” yang mirip dengan keadaanmu sekarang. Pada mulanya, dia juga belum begitu yakin apakah aku serius dengannya. Dia pun takut keGRan. Lalu dengan berjalannya waktu, dia menjadi yakin bahwa akulah yang paling serius dengannya diantara beberapa pria yang berusaha dekat dengannya.

Ada beberapa hal yang membuatnya yakin, tetapi yang paling meyakinkan bagi dirinya adalah “keberanianku” (baca: kenekatanku) untuk berterus-terang kepada banyak orang mengenai keseriusanku dengannya. Kepada familiku dan teman-temanku, aku suka berkata mengenai dia, “Inilah yang kelak jadi istriku.” Padahal, aku belum yakin apakah dia setuju dengan pernyataanku. Namun berhubung dia diam saja (dengan senyum simpul :) dan wajah memerah), kuanggaplah bahwa dia tidak berkeberatan aku berkata begitu. (Kandidat-kandidiat lainnya pada umumnya hanya memperkenalkan dia sebagai “teman” saja.) Pernyataan secara terbuka seperti itulah cara “nekat” yang kata istriku menunjukkan keseriusanku.

Kalau dengan cara praktis dan cara nekat itu kita sudah yakin, maka menurutku kita tak perlu kejelasan lagi mengenai status hubungan kita, karena sudah jelas. Namun kalau dengan kedua cara begitu kita masih belum yakin, maka kita membutuhkan kejelasan.

Akan tetapi, kejelasan yang kita butuhkan bukanlah mengenai istilah hubungan tersebut. Sebab, pemahaman kita mengenai istilah-istilah biasanya berlainan. Penegasan status “aku pacarmu” atau pun “aku bukan pacarmu” kurang berguna apabila pemahamanmu mengenai “hak dan kewajiban pacar” itu berbeda dengan pemahamannya.

Kejelasan yang kita butuhkan dalam keadaan ini adalah rincian “hak dan kewajiban” kedua pihak. Misalnya, pernyataanmu, “aku memberimu hak untuk marah kepadaku apabila aku memberi perhatian yang lebih besar kepada pria (nonmuhrim) lain daripada kepada dirimu” atau pernyataan dia, “aku berjanji untuk menaruh perhatian yang lebih besar kepada dirimu daripada kepada perempuan (nonmuhrim) lain”.

Itu hanya contoh, loh! Pernyataan kalian tidak harus begitu. Kalian bisa membuat pernyataan yang lebih rinci lagi. Bagaimanapun, kalian sendirilah yang lebih tahu apa yang kalian harapkan satu sama lain.

Apa pun pernyataan kalian, akan lebih baik apabila pengungkapannya tidak secara rahasia, tetapi ada “saksi”-nya. (Kata “saksi” ini sengaja kutulis diantara tanda petik supaya tidak terkesan formal.) Dengan demikian, para “saksi” itu lebih dapat membantu kelancaran hubungan kalian. Selain itu, seandainya terjadi konflik antara kalian di kemudian hari, akan ada seseorang yang bisa menengahi kalian karena sudah memahami perkara ini sejak awal.

Sekarang, sampaikanlah tanggapanku ini kepada dia. Dari sini, insya’allah kau bisa lebih yakin mengenai “kejelasan” statusmu dengan dia. Aku pun berdoa, semoga Allah Sang Maha Penyayang memberkahi hubungan kalian. Aamiin.

Entry Filed under: ekspresi cinta, hubungan cinta. Tag: .

4 Comments Add your own

  • 1. nda  |  15 Januari 2009 at 13:11

    jd kejelasan dari HTS tuh bukan masalah “status” ya? tapi hak n kewajiban?
    tapi, ap ga masalah kalo cewe yg nanya duluan ke cowo ttg hal tu?

    Balas
    • 2. M Shodiq Mustika  |  15 Januari 2009 at 13:54

      @ nda
      1) Ya, begitulah.
      2) Nggak pa pa. Cowok pada umumnya senang ditanyai. Tentu saja, pertanyaannya itu hendaknya bukan yang memojokkan, melainkan yang solutif (yang memecahkan masalah).

      Balas
  • 3. anaratida  |  2 Februari 2009 at 02:16

    So, Is it (HTS) right way to know someone (opposite sex) deeper?
    as long as i know, if we are “trapped” in VMJ (Virus Merah Jambu” and we aren’t ready enough, Al-Qur’an suggest us to fast…

    Balas
  • 4. M Shodiq Mustika  |  2 Februari 2009 at 09:09

    @ anaratida

    Anjuran puasa itu bukanlah dari Al-Qur’an, melainkan dari al-Hadits. Itu pun bukan ditujukan kepada orang yang “terkena virus merah jambu”. Anjuran tersebut ditujukan bagi orang yang belum mampu menikah padahal sudah ingin segera menikah dan khawatir akan kemampuannya dalam membentengi diri dari zina.

    Hal ini berdasarkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud: Nabi saw. pernah bersabda kepada kami, “Wahai para pemuda! Barangsiapa yang telah mampu menikah di antara kalian, maka menikahlah karena sesungguhnya kawin itu lebih menundukkan pandangan dan lebih membentengi kemaluan: dan barangsiapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa; karena sesungguhnya puasa sebagai tameng.” (Muttafaqu ‘alaih: Fathul Bari IX:112 no:5066. Muslim II:1018 no:1400, ‘Aunul Ma’bud VI:39 no:2031, Tirmidzi II:272 no:1087, Nasa’i VI:56 dan Ibnu Majah I:592 no:1845)

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


buku panduan doa & zikir untuk atasi segala masalah cinta cara cerdas mendapatkan jodoh ideal
Klik di sini untuk terima entri-entri terbaru Muslim Romantis via eMail
© 2008-2009 M Shodiq Mustika. All rights reserved.
Dilarang menyalin isi blog ini, kecuali bila diizinkan.

RSS Entri Terbaru

Entri Populer

Kata Kunci Utama

Abu Syuqqah akhwat anak asmara bahagia bercinta berita buku cinta dakwah doa doa & zikir cinta dosen Fiqih Pacaran gaya pacaran harta Ibnu Hazm ikhtiar ilmu islam istikharah cinta istri jodoh karier keluarga kemiskinan konsultasi mendekati zina pacar pacaran pacaran islami penulis pernikahan poligami pranikah putus cinta romantis rumah tangga rumahtangga spiritual suami sukses sunnah Nabi Syifa zina

Kategori Entri

Arsip Bulanan

.

RSS Agama Islam

RSS Cinta Hakiki

RSS Hubungan Pria-Wanita

RSS Pengembangan Diri

Taut Relevan

Komentar Terbaru

Meta