Bagaimana sikap suami-istri bila berbeda pandangan

27 Mei 2008

Bila pandangan suami-istri berlainan, kedua pihak sebaiknya saling menghargai (dan berusaha menempuh jalan tengah). Misalnya, suami mengikut fatwa salafi yang mengharamkan segala jenis khalwat (berduaan) dengan nonmuhrim, sedangkan istri mengikut fatwa para ulama lain yang menghalalkan khalwat (dalam kondisi terawasi).

Dalam kasus ini, suami yang bijaksana tidak akan secara mutlak melarang istrinya berkhalwat dengan pria lain. Ia akan berusaha memastikan bahwa khalwat istrinya itu akan berlangsung “aman” (takkan mendekati zina, takkan mengundang fitnah, dan sebagainya).

Sementara itu, istri yang bijaksana tidak akan sebebas-bebasnya berkhalwat dengan pria lain. Meskipun dalam kondisi terawasi, ia melakukannya hanya pada urusan yang sungguh-sungguh penting dan tidak menjadikannya sebagai kebiasaan.

Dalam hal ini kita dapat mengambil pelajaran dari hadits berikut:

Asma binti Abu Bakar r.a. berkata: “Pada suatu hari, aku datang [berjalan] dengan biji kurma di atas kepalaku. Lalu aku bertemu dengan Rasulullah saw. yang diiringi beberapa orang sahabat beliau dari kalangan Anshar. Beliau memanggilku lalu mengucapkan ‘Ikh… ikh…. (ucapan untuk membuat onta menderum).’ Beliau bermaksud memboncengkan aku di belakang beliau. Aku merasa malu berjalan bersama kaum laki-laki, dan aku teringat az-Zubair [suamiku] dan sifat cemburunya. Dia adalah orang yang paling cemburu. Rupanya Rasulullah saw. tahu bahwa aku merasa malu, sehingga beliau berlalu meninggalkanku. Lalu aku datang kepada az-Zubair. Aku berkata, ‘Rasulullah saw. menemuiku, sementara di atas kepalaku ada biji kurma. Dan bersama beliau ada beberapa orang sahabatnya. Beliau menderumkan ontanya untuk aku tunggangi, tetapi aku merasa malu kepada beliau dan aku juga tahu sifat cemburumu.’ Mendengar penuturan Asma itu, az-Zubair berkata, ‘Demi Allah, engkau mengangkat biji kurma di atas kepalamu itu lebih berat bagiku daripada kamu menunggang kendaraan bersama beliau.’“  (HR Bukhari & Muslim)

Nah! Perhatikanlah betapa Asma dan Zubair saling menghargai. Asma memperhatikan sifat cemburu sang suami, sehingga tidak berkhalwat (dalam kondisi terawasi) walaupun sudah dipersilakan oleh Rasulullah saw. Zubair pun merasa kasihan kepada sang istri, sehingga (meskipun merasa cemburu) mengizinkan sang istri berkhalwat (dalam kondisi terawasi) dengan pria lain, berupa berboncengan berduaan dalam satu kendaraan. Sungguh teladan yang indah, bukan?
 

Entry Filed under: Istri Teladan, Suami Adil, cemburu, islam, konflik. Tag: , , , , , , , , , .

3 Comments Add your own

  • 1. infogue  |  31 Mei 2008 at 11:11

    Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com

    Balas
  • 2. Nieta  |  13 Agustus 2008 at 18:58

    Alhamdulilah

    Balas
  • 3. unekunekotak  |  28 Agustus 2008 at 16:50

    sungguh sebenar keindahan keluarga..saling mengisi, pecaya, menghargai dalm satu keyakinan yang benar2 indah..

    Balas

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


buku panduan doa & zikir untuk atasi segala masalah cinta cara cerdas mendapatkan jodoh ideal
Klik di sini untuk terima entri-entri terbaru Muslim Romantis via eMail
© 2008-2009 M Shodiq Mustika. All rights reserved.
Dilarang menyalin isi blog ini, kecuali bila diizinkan.

RSS Entri Terbaru

Entri Populer

Kata Kunci Utama

Kategori Entri

Arsip Bulanan

.

RSS Agama Islam

RSS Cinta Hakiki

RSS Hubungan Pria-Wanita

RSS Pengembangan Diri

Taut Relevan

Komentar Terbaru

Meta