Buat apa sembunyikan rasa cinta?
3 Januari 2008
Apakah lingkungan kehidupan beragama Anda adalah kalangan muslim yang menjalani syariat Islam secara keras atau teramat ketat? Kalau iya, barangkali Anda jarang menyaksikan rekan-rekan Anda jatuh cinta. Bahkan, kalau pun mereka jatuh cinta, Anda mungkin tak pernah mendengar mereka mengungkapkan isi hati mereka ini. Ekspresi cinta di luar nikah dianggap tabu. Tahu-tahu, dari perkenalan ala kadarnya, mereka tampak sudah langsung berada di tahap khitbah (peminangan). Tahu-tahu, mereka telah bergegas menikah.
Andai Anda berada di lingkungan begitu, maklumlah saya apabila Anda suka menyembunyikan rasa cinta, betapapun beratnya. Anda merahasiakan isi hati Anda ini mungkin lantaran malu. Boleh jadi Anda khawatir kalau-kalau orang-orang di lingkungan Anda itu tahu bahwa Anda sedang dirundung cinta. Kalau mereka tahu bahwa Anda sedang jatuh cinta, Anda khawatir mereka akan menilai Anda sebagai “orang yang tak saleh dan tak taat beragama.” Bahkan, Anda sendiri barangkali mengira, jatuh cinta kepada lawan-jenis itu merupakan kelemahan yang tak pernah mendera orang yang beriman.
Hanya saja, benarkah jatuh cinta itu pertanda kelemahan diri? Benarkah orang-orang yang beriman tak pernah jatuh cinta kepada lawan-jenis? Benarkah mereka selalu menyembunyikannya manakala dirundung asmara?
Tidak, tidak, tidak! Ibnu Hazm mengabarkan bahwa sebagian orang yang beriman, termasuk para khalifah dan imam-imam tersohor, pernah dirundung cinta kepada lawan-jenis tanpa menyembunyikannya.
Di buku Di Bawah Naungan Cinta, hlm. 21-23, Ibnu Hazm menampilkan beberapa contoh orang beriman yang jatuh cinta kepada lawan-jenis tanpa menyembunyikannya. Diantara mereka ialah:
- Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, salah seorang dari tujuh ahli fiqih Madinah yang masyhur dengan julukan bakhran minal bukhuur fil ‘ilmi, samudera dari samudera-samuderanya ilmu;
- Al-Muzhaffar Abdul Malik bin Abu Amar yang mencintai putri seorang tukang kebun, yang percintaannya disaksikan sendiri oleh Ibnu Hazm;
- Pembesar-pembesar di Andalusia, seperti (1) Abdurrahman bin Mua’awiyah yang mencintai Da’ja’, (2) Abdurrahman bin Al-Hakam yang mencintai Tharub dan membuahkan anak, (3) Muhammad bin Abdurrahman yang mencintai Ghazlan dan juga membuahkan anak, (4) Al-Hakam Al-Mustanshir yang jatuh cinta kepada Shabah yang kemudian menjadi ibu bagi anaknya. (Para pemimpin negeri di zaman Ibnu Hazm itu seolah-olah tak mau mempunyai keturunan selain dari wanita-wanita yang dicintainya.)
Itulah contoh-contoh dari Ibnu Hazm di masa lalu. Bagaimana dengan lingkungan kita, Indonesia, pada masa sekarang? Tidak pernahkah kita saksikan tokoh Islam atau pun ustad yang dirundung asmara tanpa merahasiakannya?
Entry Filed under: ekspresi cinta, islam. Tag: alim, asmara, Ibnu Hazm, ulama.
3 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed


1. Kalau Ustad Jatuh Cinta « Pacaran Islami | 4 Januari 2008 at 11:07
[...] kita saksikan tokoh Islam atau pun ustad yang dirundung asmara tanpa merahasiakannya? Demikian pertanyaan saya kemarin di situs Muslim Romantis. Sekarang, berikut ini jawaban [...]
2.
pandakeadilan | 19 Januari 2009 at 23:45
ni dia penyakit penyair yang disebut Qur’an; ”Dan para penyair itu, diikuti orang-orang pendusta. Tidaklah kamu melihat bagaimana mereka mengembara tanpa arah di setiap lembah. Dan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan.” (QS. Al Syu’ara : 224-226)
Yahimun : mengembara tanpa arah. Itu ungkapan ajaib dan sangat akurat. Lalu diperkuat dengan pernyataan bahwa mereka mengatakan apa yang tidak mereka lakukan. Itu membuatnya lebih dalam lagi. Karena akhirnya, ini adalah cerita tentang watak yang terbelah, antara kata dan laku, tentang kata tanpa makna dan arah, tentang kata yang hanya sekadar kata.
Penyair dan lembah itu, metafora tentang ketidakjujuran, tentang jiwa yang sakit, tentang karakter yang lemah. Cinta memang harus berkembang jadi kata. Sebab itu membuatnya nyata. Dan meyakinkan. Tapi kata itu harus benar-benar merupakan anak-anak manis yang lahir dari rahim cinta. Hanya itu yang membuatnya kuat dan berkarakter. Hanya itu yang membuat kata menyatu dengan laku. Serta bebas dari keterbelahan jiwa. Jika tidak cinta akan terkena virus yang menimpa para penyair.
3.
M Shodiq Mustika | 20 Januari 2009 at 01:15
@ pandakeadilan
Apakah Anda seorang ahli tafsir? Kalau tidak, Anda terlalu berani dalam menafsirkan ayat Alqur’an, sampai-sampai memastikan “ini dia penyakit yang disebut Qur’an …”